Surabaya, (DOC) – National Hospital Surabaya kembali mencatat tonggak penting dalam dunia medis dengan menghadirkan teknologi navigasi bedah saraf berakurasi submilimeter ultra-presisi (0,1 milimeter).
Melalui tema The Future of Neurosurgery, teknologi canggih ini dirancang untuk memandu operasi otak dan tulang belakang secara real-time dengan tingkat ketepatan yang belum pernah ada sebelumnya di fasilitas kesehatan swasta wilayah Indonesia Timur.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Fungsional National Hospital, Dr. dr. Achmad Fahmi, Sp.BS (K), mengibaratkan sistem neuronavigasi ini bekerja layaknya aplikasi peta digital penunjuk arah.
Perbedaannya, sistem ini memandu instrumen bedah medis langsung ke sasaran organ tubuh bagian dalam pasien secara akurat.
“Dengan alat navigasi ini, kita bisa mengetahui area otak yang ingin dituju, baik untuk memasang sesuatu, mengambil jaringan, maupun melakukan tindakan lainnya. Ketika instrumen bergerak, posisinya dapat dipantau secara langsung melalui sistem,” ujar dr. Fahmi saat peluncuran teknologi di Auditorium Ang Kang Hoo National Hospital, Kamis (29/10/2026).
Bukan Robot Pengganti Dokter
Meski dibekali teknologi kecerdasan buatan (AI) serta integrasi pencitraan medis kelas atas seperti MRI 3T SIGNA Architect Air dan CT Scan SOMATOM Force 1.152 irisan, dr. Fahmi menegaskan bahwa sistem ini tidak bertindak sebagai robot otonom yang mengambil alih kendali operasi.
“Teknologi ini bukan robot yang mengambil alih tindakan dokter. Sistem ini membantu menunjukkan posisi instrumen secara langsung, sedangkan dokter tetap mengendalikan dan melakukan operasi,” tegasnya.
Dengan panduan visual tiga dimensi (3D brain mapping) dan traktografi pemetaan jalur serabut saraf yang dijelaskan oleh dr. Heri Subianto, Sp.BS (K) dokter dapat meminimalkan risiko pembukaan jaringan yang terlalu luas.
Hal ini tidak hanya memangkas durasi operasi, tetapi juga menaikkan faktor keselamatan pasien secara signifikan, baik untuk kasus tumor otak, bedah vaskular, neuro-onkologi, maupun penanganan saraf terjepit dan trauma tulang belakang.
Investasi Mandiri demi Kecepatan Layanan
Sementara itu, CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, menegaskan bahwa perangkat mutakhir ini dibeli secara mandiri sebagai bentuk komitmen jangka panjang rumah sakit dalam memperkuat layanan neurosains, tanpa skema pinjaman alat.
“Alat yang kami bawa ini tidak pinjam, kami beli agar layanan di National Hospital lebih cepat,” ujar Ang.
Kendati teknologi navigasi serupa sejatinya sudah mulai diadopsi rumah sakit pemerintah sejak tahun 2015, kehadiran perangkat yang dimiliki dan dioperasikan secara penuh oleh rumah sakit swasta ini diharapkan mampu menjadi standar baru rujukan penanganan kasus saraf kompleks berstandar internasional di Indonesia Timur.





