Ketika Kota Lama Menyapa, Seberapa Jauh Kepedulian Kita Terhadapnya?

Surabaya, (DOC) – Kota Surabaya, dengan julukan ‘Kota Pahlawan’ yang tentunya bukan dongeng, melainkan salah satu bukti sejarah yang nyata adanya. Bung Tomo yang pada kala itu menyalakan gong semangat pertempuran arek-arek Suroboyo melawan para penjajah, adalah salah satu potret historikal yang tidak akan pernah dihapuskan oleh zaman.

Bacaan Lainnya

Seiring berjalannya waktu, semangat para pahlawan tersebut masih bergaung pada masyarakatnya dalam pembangunan kota. Salah satunya, adalah kawasan Wisata Kota Lama Surabaya yang direvitalisasi dan diresmikan oleh Pemerintah Kota pada tahun 2024. Dengan bangunan-bangunan kolonial yang megah di 4 Zona, Kota Lama menjadi salah satu destinasi yang memikat, baik bagi wisatawan lokal maupun internasional.

Namun pertanyaannya adalah, bagaimana bentuk kepedulian warga Surabaya kepada salah satu kawasan wisata yang ikonik ini?

Yusha Mega, seorang pekerja swasta berusia 28 tahun mengaku terkesima dengan suasana kawasan wisata tersebut. Ia menceritakan, saat di Zona Eropa dan Niaga dirinya seolah masuk ke mesin waktu yang membawanya jauh ke masa kolonial, di mana gedung-gedung berarsitektur klasik berdiri megah dan menyaksikan alur perubahan zaman.

“Di mata saya, ini adalah mahakarya. Saya sampai jalan kaki dari Jalan Rajawali, Jembatan Merah, Jalan Coklat, Jalan Mliwis, Jalan Prajak sampai Jalan Glatik,” ungkap Yusha.

Dalam kekagumannya, Yusha juga mengakui bahwa kawasan ini harus ada partisipasi besar dalam masyarakat dalam menjaganya. Karena itulah, dia mencoba berkontribusi dengan hal yang sederhana, yakni mengambil foto orang-orang yang sedang membuang sampah pada tempatnya. Foto-foto tersebut rencananya akan ia posting ke media sosialnya.

“Kita sampaikan kepada masyarakat, bahwa setidaknya jagalah kebersihan. Sebagai orang yang beradab dan berpendidikan, warga kota juga harus sadar bahwa kawasan Kota Lama ini jangan hanya Pemkot yang merawat, tapi masyarakatnya pun bisa melakukan, dimulai dari hal yang sangat mudah,” ujar wanita asli Pekalongan yang telah berkarir di Kota Pahlawan selama 10 tahun tersebut.

Baca Juga:  16 Mahasiswa Papua Terluka Karena Bentrokan Dengan Ormas Pro NKRI

Selain Yusha, salah satu warga asli Surabaya lain yakni Deni (33). Ia yang bekerja sebagai teknisi lab komputer memiliki hobi menulis, khususnya terkait teknologi dan sejarah. Saat diwawancarai, ia menjelaskan pernah mengirimkan artikel wisata Kota Lama menggunakan bahasa Inggris ke beberapa media luar negeri seperti Singapura hingga Amerika.

“Waktu itu pak Wali Kota Eri Cahyadi mengumumkan bahwa Kota Lama resmi dibuka. Tapi saya tidak bisa langsung kesana, karena ada proyek. Saya baru ke lokasi itu seminggu setelah pembukaan,” kata Deni.

Ia menyebut, waktu itu dirinya memilih untuk fokus pada kawasan Pecinan sebagai bahan tulisannya. Dengan bermodal smartphone dan headset, ia merangkai artikel dengan penuh semangat terkait apa saja suguhan historikal disana.

“Mulai dari pernak-pernik khas Tionghoa, Kelenteng Boen Bio, sampai kuliner seperti Dimsum, Kwetiaw, Capcay, Fuyunghai. Harus saya akui memang, ini salah satu hadiah terbaik dari pak Eri. Karena itu, saya juga gak mau kalah menunjukkan kecintaan kota ke kancah luar negeri,” paparnya.

Namun keberuntungan masih belum berpihak padanya, lantaran artikel yang sudah ia kirim ke tiga media internasional pun tidak ada yang lolos.

“Dapat kabar dari email kalau karya saya belum bisa dibilang layak. Tapi ya kita tidak bisa apa-apa selain berpantang menyerah. Rencananya kedepan, mungkin saya akan ambil sisi lain dan bisa juga menyertakan tulisan soal Tunjungan Romansa,” ucap Deni.

Di Kota Lama Surabaya, terdapat tiga moda utama yang disiapkan adalah Suroboyo Bus, Trans Semanggi Suroboyo, dan Feeder Wira-Wira Suroboyo, yang memudahkan pengunjung untuk mengakses zona Eropa di Kota Lama.

Kepala Bappedalitbang Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menyatakan bahwa meskipun Trans Semanggi dan Wira-Wiri tidak langsung menuju kawasan itu, wisatawan dapat transit untuk melanjutkan perjalanan dengan Suroboyo Bus.

“Kawasan wisata Kota Lama meliputi area dari Jalan Kembang Jepun hingga Jalan Rajawali yang dipisahkan oleh Jembatan Merah, yang memiliki nilai sejarah sebagai saksi peristiwa heroik pertempuran Surabaya,” terangnya.

Kawasan ini juga menampilkan arsitektur kolonial di sisi barat dan arsitektur khas Timur di sisi timur, seperti Tiongkok, India, dan Arab. Kawasan timur ini juga terkenal dengan wisata religi, termasuk masjid dan makam Sunan Ampel serta Langgar Gipo yang berusia 300 tahun.

Baca Juga:  1000 Pohon Bambu Kuning di Buffer Zone TPA Benowo Ditanam untuk Mengurangi Polusi Udara

“Tempat ini juga berperan dalam sejarah kemerdekaan, di mana langgar ini menjadi markas ulama dan santri dalam perlawanan terhadap penjajah,” jelas Irvan.

Pun demikian dengan pengamat pendidikan Isa Anshori mengapresiasi upaya Pemkot Surabaya ini, melihatnya sebagai peluang bagi siswa dan sekolah untuk belajar di luar kelas dalam suasana yang penuh nilai sejarah.

“Ini akan menjadi angin segar bagi iklim belajar di Surabaya dan Jawa Timur. Guru dan sekolah bisa memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat belajar bagi siswa. Selain itu, wisata ini juga memberikan banyak pilihan ruang belajar di luar sekolah untuk peningkatan kualitas pendidikan,” ungkap Isa.

Sanjung Gemerlap Cahaya di Tunjungan Romansa

Selain antusiasme di kawasan Kota Lama Surabaya, Kota Pahlawan juga memiliki pesona lainnya, yakni Tunjungan Romansa yang berada di jalan Tunjungan. Ketika senja datang, disitulah cahaya dari berbagai bola lampu mulai bersinar dan menerangi suasana malam kota.

Mulai dari perdagangan yang ramai di tahun 1920-an hingga daya tariknya saat ini, Jalan Tunjungan telah berkembang menjadi perpaduan yang indah antara tradisi dan gaya kontemporer. Bangunan yang tersolek dengan sempurna kini menjadi rumah bagi kantor-kantor dinamis hingga berjejer kuliner yang lezat,

“Enjoy banget, disini ibarat Malioboro-nya Surabaya. Ada musik, jajanan enak, anak-anak skateboard kasih show sampai lukisan,” urai Samudra (26).

Dia yang masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah itu merasa bahwa sebagai orang asli Surabaya, dirinya sudah patut meramaikan wisata di jalan Tunjungan ini. Pasalnya, ia lebih memilih untuk wisata di Surabaya daripada harus lelah bepergian keluar kota.

“Ini kan seperti kata pak Eri waktu itu, dia meminta buat diramaikan. Lagian kan kita meramaikan ini juga bentuk kepedulian kita buat Surabaya, daripada sepi-sepi wae,” tutur Hendrik sembari memasang topi untuk lanjut jalan-jalan.

Tak hanya itu, Tunjungan Romansa juga memiliki bangunan-bangunan bersejarah seperti Gedung Siola, Hotel Majapahit dan Monumen Pers Perjuangan. Tidak ketinggalan juga musik “rek ayo rek” berputar saat pejalan kaki menyebrang jalan, yang membawa suasana ceria. Selain itu beberapa kali juga sering ada pertunjukan seni yang dibawakan oleh warga lokal.

Baca Juga:  Narapidana Bom Bali 1, Umar Patek, Dibebaskan Secara Bersyarat

Sekilas sejarah, dulunya kawasan tersebut memiliki julukan Petoenjoengan, atau koridor penghubung antara Kota Lama (Kota Indisch-1870/1900) dan Kota Baru (Kota Gemeente-1905/1940). Seiring perkembangan zaman, jalan tersebut tumbuh sebagai pusat perbelanjaan jalanan yang estetik.

Tunjungan Romansa memang merupakan salah satu visi dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, dalam meningkatkan gairah wisata. Eri menyebut, Tunjungan Romansa ini nantinya bakal familiar dengan UMKM dan tempat nongkrong.

“Jadi Jalan Tunjungan ini bakal dikenang sepanjang massa. Kita hidupkan kembali karena ada heritage-nya di Jalan Tunjungan. Selain itu, ada juga tempatnya Cak Markeso di situ tempat latihan seni, tempat latihan jula-juli ada di sana,” urai Eri, saat peresmian Tunjungan Romansa, Minggu (21/11/2021). (r6)

Pos terkait