Jombang, (DOC) – KH Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026).
Penetapan tersebut diumumkan anggota majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), KH Anwar Iskandar, dalam Sidang Pleno V di Gedung Serbaguna (GSG) Bahrul Ulum.
“Nama KH Miftachul Akhyar dipilih jadi Rais Aam kepengurusan masa khidmat 2026–2031,” kata KH Anwar di hadapan para muktamirin.
Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar menandai keberlanjutan kepemimpinan syuriyah PBNU untuk periode berikutnya. Pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu memiliki pengalaman panjang dalam struktur organisasi NU.
Kiai Miftachul mengawali kiprahnya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000–2005. Ia kemudian dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode, yakni 2007–2018.
Karier strukturalnya berlanjut sebagai Wakil Rais ‘Aam PBNU pada 2015–2018. Selanjutnya, ia menjadi Penjabat (Pj) Rais ‘Aam PBNU pada 2018–2020 menggantikan KH Ma’ruf Amin.
Kiai Miftachul kemudian menjabat Rais ‘Aam PBNU periode 2021–2026 dan kini kembali mendapat amanah untuk periode 2026–2031.
Ulama kelahiran Surabaya, 30 Juni 1953, tersebut merupakan putra pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlak Rangkah, KH Abdul Ghoni, dan Hj. Siti Ashfiyah. Ia merupakan putra kesembilan dari 13 bersaudara dan tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat.
Gus Yusuf Minta Pendukung Tahan Diri
Di tengah dinamika Muktamar Ke-35 NU, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, menyatakan menerima seluruh proses dan hasil muktamar dengan legawa.
Gus Yusuf mengimbau para pendukung dan simpatisannya tetap tenang serta tidak terpancing provokasi. Ia meminta seluruh pihak mengutamakan keutuhan jam’iyah dan marwah para kiai di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Dalam sebuah muktamar, perbedaan pandangan dan dinamika merupakan bagian dari proses organisasi. Apa pun hasilnya harus kita sikapi dengan kedewasaan, kejernihan hati, dan tetap mengutamakan kemaslahatan jam’iyah,” ujar Gus Yusuf.
Tokoh asal Jawa Tengah itu menegaskan bahwa pengabdian kepada NU tidak bergantung pada jabatan atau posisi dalam struktur organisasi.
“Khidmat kepada NU tidak bermula dari jabatan dan tidak berhenti karena jabatan. Baik melalui jalur struktural maupun kultural, insyaallah saya akan tetap berkhidmat. NU adalah rumah pengabdian kita bersama,” tegasnya.
Gus Yusuf menyatakan akan tetap berkontribusi dalam penguatan pesantren, pendidikan, layanan kesehatan, kemandirian ekonomi, hingga pelayanan sosial bagi warga Nahdliyin.
Sikap tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Koordinator Nasional Guyub Nusantara, KH M. Furqon. Menurut Furqon, sikap Gus Yusuf menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin dalam menjaga persaudaraan sesama Nahdliyin.
Furqon diketahui turut mendampingi safari silaturahmi Gus Yusuf ke 464 PCNU di seluruh Indonesia.
“Kami berharap seluruh pendukung dan sahabat Gus Yusuf mengikuti imbauan beliau: tetap tenang, menjaga kondusivitas, dan tidak terpancing oleh keadaan. Sikap terbaik saat ini adalah menjaga persaudaraan serta kehormatan jam’iyah,” tutur Furqon.
Penetapan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam PBNU periode 2026–2031 sekaligus sikap Gus Yusuf tersebut menjadi bagian dari rangkaian dinamika Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung di Jombang.





