Surabaya,(DOC) – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meluas ke kawasan Timur Tengah mulai memunculkan kekhawatiran di daerah. Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) menilai, gejolak geopolitik tersebut berpotensi memberi tekanan serius terhadap perekonomian Jawa Timur, terutama melalui kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, hingga lonjakan biaya logistik internasional.
Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa Jawa Timur sebagai salah satu motor ekonomi nasional tidak boleh lengah. Respons cepat dan terukur diperlukan agar dinamika global tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah.
“Dampak utama konflik Timur Tengah terhadap Jawa Timur setidaknya datang dari dua arah, yakni hubungan dagang langsung dengan kawasan tersebut serta efek berantai dari kenaikan harga minyak dunia dan gangguan sistem perdagangan global,” ujarnya, Senin (2/3).
Salah satu titik rawan berada di jalur distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz, kawasan yang sangat sensitif terhadap konflik. Ketegangan di wilayah itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran internasional. Dampaknya akan terasa pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk ke Indonesia.
Menurut Kadin Jatim, tekanan paling nyata berpotensi muncul pada sektor pangan berbasis impor, terutama kedelai. Indonesia masih mengimpor sekitar 2,5–3 juta ton kedelai per tahun, dengan nilai impor dari Amerika Serikat mencapai lebih dari US$1 miliar.
Sebagai sentra industri tempe dan tahu nasional, Jawa Timur sangat bergantung pada pasokan tersebut. Kenaikan harga minyak dan ongkos pengiriman diperkirakan akan meningkatkan biaya pendaratan (landed cost) kedelai. Risiko makin besar jika dibarengi pelemahan rupiah akibat sentimen risk-off global.
“Pelaku UMKM tempe dan tahu beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Jika harga kedelai melonjak, pilihan mereka terbatas: menaikkan harga jual, mengecilkan ukuran produk, atau bahkan menghentikan produksi sementara,” kata Adik.
Kedelai juga menjadi bahan baku utama industri pakan ternak melalui bungkil kedelai. Jika harga pakan naik, efek lanjutannya bisa merambat ke harga ayam dan telur, yang berpotensi mendorong inflasi pangan di tingkat daerah.
Dari sisi perdagangan luar negeri, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri, Tommy Kaihatu, menyebut kinerja ekspor Jawa Timur saat ini masih solid.
Nilai ekspor Jawa Timur tercatat sekitar US$30 miliar dengan surplus perdagangan lebih dari US$800 juta. Sekitar 10 persen ekspor tersebut ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah.
Namun, ia mengingatkan bahwa struktur ekspor Jawa Timur yang didominasi produk manufaktur, agroindustri, dan industri pengolahan sangat sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan logistik.
“Eskalasi konflik bisa menaikkan biaya produksi industri padat energi, tarif pengiriman kontainer, serta asuransi ekspor. Jika kontrak ekspor bersifat fixed price, margin eksportir berpotensi tergerus. Ketidakpastian global juga dapat menekan permintaan di pasar tujuan,” jelasnya.
Menurut Kadin Jatim, tantangan ke depan bukan hanya potensi penurunan volume ekspor, tetapi juga tergerusnya daya saing akibat lonjakan biaya produksi dan volatilitas nilai tukar.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Kadin Jatim mendorong langkah strategis jangka pendek dan menengah. Dalam 0–30 hari ke depan, diperlukan koordinasi cepat antara pemerintah daerah, importir, dan pelaku industri guna memastikan ketersediaan buffer stock kedelai untuk kebutuhan minimal 1–2 bulan.
Transparansi data stok dan distribusi melalui koperasi produsen dinilai penting untuk mencegah spekulasi harga. Di sektor industri dan ekspor, fasilitasi pembiayaan modal kerja jangka pendek bagi UMKM pangan serta pendampingan manajemen risiko kurs dan freight surcharge bagi eksportir perlu diperkuat.
Untuk jangka menengah (1–6 bulan), diversifikasi sumber impor kedelai harus dipercepat guna mengurangi ketergantungan pada satu negara asal. Selain itu, efisiensi energi industri dan perluasan pasar ekspor ke kawasan non-konflik juga menjadi agenda strategis.
Meski tantangan global meningkat, Kadin Jatim menilai fundamental ekonomi Jawa Timur relatif kuat dan telah teruji menghadapi berbagai guncangan sebelumnya. Namun, kecepatan respons dan koordinasi lintas sektor tetap menjadi kunci agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi gangguan serius.
“Kita memang tidak bisa mengendalikan geopolitik global, tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama,” tegas Adik.
Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan otoritas keuangan, Jawa Timur diharapkan tetap resilien dan mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks. (r6)





