KPID Jatim Soroti Ancaman Algoritma terhadap Semangat Kebangsaan

KPID Jatim Soroti Ancaman Algoritma terhadap Semangat KebangsaanSurabaya,(DOC) – Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur (Jatim), Rosnindar Prio Eko Rahardjo, mengingatkan pentingnya peran dunia penyiaran dalam menjaga semangat kebangsaan di tengah derasnya arus digital dan dominasi algoritma media sosial.

Hal itu disampaikan Rosnindar dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026. Menurutnya, dunia penyiaran pernah menjadi alat pemersatu bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era awal televisi dan radio di Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Dulu penyiaran mampu menyatukan masyarakat. Orang berkumpul menonton televisi atau mendengarkan radio bersama-sama. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh,” ujarnya.

Penyiaran Pernah Jadi Pemersatu Bangsa

Rosnindar menjelaskan radio memiliki peran besar dalam menyebarkan semangat kemerdekaan Indonesia. Saat itu, para pejuang penyiaran mempertaruhkan nyawa demi menyiarkan kabar proklamasi ke berbagai daerah.

Menurutnya, gelombang radio berhasil menjangkau masyarakat hingga pelosok desa dan membangkitkan kesadaran nasional sebagai bangsa Indonesia.

“Melalui siaran radio, masyarakat di berbagai daerah akhirnya mengetahui bahwa Indonesia sudah merdeka. Penyiaran saat itu menjadi alat pemersatu bangsa,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan situasi saat ini. Kemajuan teknologi digital justru membuat masyarakat terpecah dalam kelompok-kelompok kecil akibat pengaruh algoritma media sosial.

Algoritma Dinilai Memicu Polarisasi

Rosnindar menilai algoritma media sosial membuat masyarakat hanya menerima konten sesuai minat masing-masing. Kondisi itu di nilai berpotensi memicu polarisasi sosial.

“Orang yang suka konten marah akan terus di suguhi konten serupa. Begitu juga dengan konten gosip dan lainnya. Akibatnya, masyarakat hidup di ruang yang berbeda-beda meski berada di negara yang sama,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Karena itu, insan penyiaran harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai perekat sosial.

Konten Positif Jadi Tantangan Baru

Rosnindar mengatakan tantangan terbesar dunia penyiaran saat ini adalah menghadirkan konten yang tidak hanya mengejar rating dan jumlah penonton, tetapi juga mampu membangun rasa bangga terhadap Indonesia.

Baca Juga:  Sebuah Akun Tiktok Dilaporkan LBH Muhammadiyah ke Polisi

Ia mendorong televisi, radio, hingga kreator konten digital untuk memproduksi siaran yang mengangkat budaya, inovasi, dan potensi anak bangsa.

“Kita membutuhkan konten yang membuat generasi muda bangga terhadap bangsanya sendiri, bukan hanya mengenal budaya luar,” ungkapnya.

Menurutnya, media lokal harus mampu bersaing dengan platform global seperti YouTube, TikTok, dan Netflix melalui kekuatan identitas budaya lokal dan nilai kebangsaan.

Momentum Kebangkitan Nasional

Rosnindar menegaskan makna Kebangkitan Nasional saat ini bukan lagi sekadar perjuangan fisik, tetapi juga upaya menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.

Ia berharap seluruh insan penyiaran dapat menghadirkan tayangan yang memperkuat persatuan dan tidak memicu perpecahan di masyarakat.

“Di layar mana pun masyarakat melihat, semangat yang muncul harus tetap sama, yaitu semangat Indonesia yang maju,” pungkasnya.(ode/r7)

Pos terkait