
Surabaya, (DOC) – Di tengah padatnya permukiman dan suhu Kota Surabaya yang menyengat, sebuah terobosan pertanian modern berhasil dilakukan. Tanpa perlu udara sejuk pegunungan, jamur tiram putih justru sukses tumbuh subur setiap hari di tengah kota. Kuncinya terletak pada implementasi teknologi smart farming yang diterapkan oleh Kelompok Tani Elok Mekarsari RW 8.
Penerapan teknologi pertanian digital ini berhasil mengubah tantangan iklim mikro Surabaya yang panas menjadi peluang bisnis yang konsisten. Dari sebuah rumah jamur sederhana, para anggota kelompok tani kini mampu memanen jamur tiram putih hampir setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar perkotaan (urban farming).
Ketua Kelompok Tani sekaligus Ketua UMKM Elok Mekarsari RW 8, Astuti atau yang akrab disapa Bu Made mengungkapkan bahwa tantangan terbesar budidaya jamur di Surabaya adalah menjaga kelembapan udara. Jamur membutuhkan lingkungan yang lembap dan minim cahaya, kondisi yang bertolak belakang dengan karakteristik Surabaya.
Untuk menyiasati hal tersebut, mereka beralih ke teknologi smart farming berupa sistem pengkabutan otomatis. Teknologi inilah yang menjadi aktor utama di balik konsistensi panen mereka.
“Karena suhu di Surabaya cukup panas, kami menggunakan sistem pengkabutan untuk menjaga kelembapan ruangan. Air tidak boleh mengenai baglog (media tanam) secara langsung karena dapat menyebabkan pembusukan. Pengkabutan otomatis ini bekerja pintar, hanya menjaga kelembapan udara agar jamur tetap tumbuh optimal,” jelas Bu Made saat ditemui, Jumat (3/7/2026).
Sistem pintar ini memastikan media tanam tidak terlalu basah namun udara di dalam ruangan tetap sejuk sesuai dengan kebutuhan biologis jamur. Menariknya, budidaya ini juga menghasilkan sayuran yang sangat organik karena sama sekali tidak membutuhkan pupuk kimia maupun pestisida.
Berkat konsistensi yang dihadirkan oleh teknologi smart farming, kelompok tani ini mampu memanen rata-rata sekitar dua kilogram jamur segar setiap harinya. Kendati demikian, produktivitas ini justru memicu tantangan baru: kewalahan memenuhi ledakan permintaan pasar.
“Permintaan pasar sebenarnya sudah menembus lebih dari 10 kilogram per hari. Produksi kami saat ini belum mampu mengimbangi tingginya antusiasme konsumen,” kata Bu Made.
Melihat tingginya ceruk pasar, Kelompok Tani Elok Mekarsari tidak tinggal diam. Mereka langsung melakukan strategi hilirisasi dengan mengolah sebagian hasil panen menjadi produk siap konsumsi yang memiliki nilai jual (value-added) lebih tinggi.
Beberapa produk inovasi yang dihasilkan antara lain, sempol jamur, aneka camilan olahan jamur dan produk frozen food.
“Jika hanya dijual segar, nilai ekonominya belum maksimal. Melalui produk olahan, selain lebih awet disimpan di freezer, nilai jualnya meningkat dan mampu membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu warga sekitar,” ungkapnya.
Perjalanan panjang kelompok tani ini dimulai sejak 2013 lewat stimulus bantuan fasilitas rumah jamur dari Dinas Pertanian Kota Surabaya. Kini, seluruh operasional, perawatan teknologi, hingga pengembangan bisnis UMKM berbasis pertanian di lingkungan RW 8 telah berjalan mandiri seutuhnya.
Keberhasilan Kelompok Tani Elok Mekarsari menjadi bukti empiris bahwa keterbatasan lahan dan tingginya suhu perkotaan bukan lagi penghalang untuk produktif. Dengan sentuhan teknologi smart farming dan semangat gotong royong, pertanian modern terbukti mampu tumbuh subur di Surabaya menghadirkan pangan sehat sekaligus menjadi mesin penggerak ekonomi lokal yang menjanjikan.





