
Surabaya, (DOC) – SMP Negeri 5 Surabaya membuka ekstrakurikuler tata boga sebagai wadah pengembangan keterampilan hidup (life skill) bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Lewat kegiatan memasak ini, para siswa inklusi dilatih untuk mandiri, mengasah kerja sama tim, hingga membekali diri dengan keahlian praktis yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Kepala SMPN 5 Surabaya, Nurul Yaqin, mengungkapkan bahwa pemilihan ekstrakurikuler ini murni berdasar pada aspirasi dan minat para siswa sendiri.
Melalui pendekatan adaptif ini, sekolah berharap ekstrakurikuler tata boga tidak hanya menjadi sarana belajar memasak, tetapi juga membangun rasa percaya diri serta kemandirian para siswa berkebutuhan khusus.
“Awalnya kami konfirmasi ke anak-anak, kira-kira mereka ingin ekstrakurikuler apa. Ternyata yang mereka sukai adalah memasak, sehingga memasak kami berikan sebagai life skill untuk anak-anak PDBK,” ujar Nurul Yaqin, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan ekstrakurikuler tersebut digelar rutin satu minggu sekali, setiap Rabu. Berbagai makanan dibuat dalam kegiatan itu, mulai dari bolu, martabak, donat hingga aneka gorengan.
Menu yang dibuat tidak selalu ditentukan oleh guru. Para siswa juga dapat mengusulkan makanan yang ingin mereka praktikkan.
Menurut Nurul, ekstrakurikuler tata boga untuk PDBK telah berjalan sejak 2018. Setiap tahun, sekolah kembali melihat minat dan kemampuan siswa karena peserta didik terus berganti.
Dengan cara tersebut, kegiatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketertarikan masing-masing siswa.
Untuk mendukung kegiatan, sekolah memanfaatkan sebagian dana insentif guru pendamping inklusi yang disisihkan sebagai modal memasak. Dari modal tersebut, siswa belajar berbagai tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah makanan hingga menghasilkan produk yang siap dikonsumsi maupun dijual.
Hasil masakan siswa kemudian dipasarkan secara sederhana di lingkungan sekolah. Produk tersebut dijual kepada siswa serta bapak dan ibu guru dengan harga relatif terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp3.000, tergantung jenis makanan dan modal yang digunakan.
Guru pendamping PDBK, Diah Puspasari, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Mereka tidak hanya mengetahui cara memasak dan membuat kue, tetapi juga mulai menerapkan keterampilan tersebut di rumah.
“Lebih banyak sukanya karena anak-anak jadi tahu bagaimana cara memasak dan membuat kue. Kadang-kadang keterampilan itu juga mereka praktikkan di rumah,” kata Diah.
Diah berharap keterampilan yang diperoleh siswa dapat menjadi bekal ketika mereka dewasa. Bahkan, sejumlah siswa mulai memiliki keinginan memanfaatkan kemampuan memasak sebagai peluang usaha dari rumah.
“Selain membuat makanan untuk dijual, siswa juga sesekali diajak memasak makanan berat bersama setelah kegiatan tertentu, seperti setelah ulangan,” imbuhnya.
Dalam kegiatan tersebut, mereka menyiapkan nasi, membeli lauk dan sayuran, kemudian memasaknya bersama-sama. Makanan yang dibuat tidak untuk dijual, melainkan dinikmati bersama.
Bagi sekolah, ekstrakurikuler tata boga bukan sekadar kegiatan belajar memasak. Kegiatan tersebut menjadi sarana melatih kemandirian, kerja sama, kreativitas, sekaligus keterampilan hidup yang dapat menjadi bekal bagi PDBK di masa depan.





