Mangrove Wonorejo Terkepung Sampah Plastik, 800 Kg Dievakuasi Saat Peringatan Hari Mangrove Nasional 2025

Mangrove Wonorejo Terkepung Sampah Plastik, 800 Kg Dievakuasi Saat Peringatan Hari Mangrove Nasional 2025Surabaya,(DOC) – Sampah plastik di kawasan mangrove di Pantai Wonorejo, Surabaya, terus menjadi sorotan aktivis lingkungan. Dalam rangka Hari Mangrove Nasional yang diperingati setiap 26 Juli, komunitas lingkungan dan relawan mahasiswa berhasil mengevakuasi 800 kilogram sampah plastik yang menjerat akar dan batang pohon mangrove di pesisir timur Surabaya.

Aksi ini dilakukan oleh gabungan relawan dari Ecoton, Marapaima (Mahasiswa Relawan Peduli Air Sungai dan Masyarakat), River Warrior Indonesia, serta No Waste Surabaya. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu (26/7/2025) dan Minggu (27/7/2025), dengan fokus pada pembersihan ekosistem mangrove dan audit sampah plastik.

Bacaan Lainnya

“Kami menemukan plastik sudah menyatu dengan tubuh mangrove. Mendarah daging. Membersihkannya sangat sulit, hampir mustahil,” ujar Aeshnina Azzahra, Captain River Warrior Indonesia, saat ditemui di lokasi aksi.

Audit Sampah: Kresek, Sachet, dan Brand Besar Mendominasi

Menurut Alaika Rahmatullah, Koordinator Riset Ecoton, hasil brand audit menunjukkan bahwa 55% sampah yang ditemukan berupa plastik tanpa merek seperti kresek, sedotan, dan styrofoam. Sementara 45% sisanya berasal dari produk bermerek:

  • Unilever – 15%
  • Wings Group – 10%
  • Indofood – 8%
  • Mayora – 7%
  • Garuda Food – 5%

“Ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah di DAS Brantas gagal. Sampah plastik dari hulu terus bocor ke laut dan menyebabkan kematian mangrove,” jelas Alaika, alumni Biologi UIN Malang.

Tak hanya di Surabaya, aksi serupa juga dilakukan di Sumber Mendit, Malang—salah satu titik hulu DAS Brantas. Relawan menemukan bahwa aliran sungai membawa banyak plastik ke wilayah hilir hingga pesisir timur Surabaya.

“DAS Brantas sudah menjadi jalur kritis bagi pergerakan sampah plastik dari hulu ke laut. Ini menunjukkan lemahnya sistem pengelolaan sampah lintas wilayah,” lanjut Alaika.

Mikroplastik Masuk Tubuh Manusia, Ancam Kesehatan

Selain mencemari mangrove dan laut, plastik juga terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan laut dan manusia. Mikroplastik bahkan telah ditemukan dalam darah dan plasenta manusia.

Baca Juga:  Terminal Teluk Lamong Salurkan 7.089 Paket Bantuan dalam Program Pelindo Berbagi Ramadhan 1447 H

“Paparan jangka panjang mikroplastik bisa sebabkan gangguan hormon, penurunan kesuburan, hingga kerusakan saraf,” ujar Meylisa Rheinia Lumintang, mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.

Ecoton menilai solusi daur ulang plastik hanya semu. Berdasarkan laporan OECD 2022, hanya 9% plastik global yang benar-benar berhasil di daur ulang. Sisanya di bakar, di buang ke TPA, atau mencemari alam.

“Plastik sekali pakai terus di produksi, sementara daur ulang tak mampu mengejar lajunya. Kami menolak daur ulang sebagai solusi tunggal tanpa pengurangan konsumsi,” tegas Alaika.

Tuntutan untuk Pemerintah dan Industri

Dalam aksi ini, para relawan dan komunitas lingkungan menyampaikan lima tuntutan tegas:

  1. Pemerintah Kota Surabaya & Pemprov Jatim: Segera bangun pagar laut untuk menghalau sampah plastik masuk ke wilayah mangrove.
  2. BBWS Brantas, Jasa Tirta I, dan Pemda sepanjang DAS Brantas: Optimalkan sistem pengelolaan sampah dari hulu sungai.
  3. Larangan plastik sekali pakai di Jawa Timur, terutama jenis kresek, sedotan, styrofoam, dan sachet multilayer.
  4. Penguatan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan produsen dalam pengurangan sampah plastik.
  5. Penerapan ketat Extended Producer Responsibility (EPR) agar produsen bertanggung jawab atas dampak produk mereka.

“Mangrove adalah benteng pesisir. Jika terus di kepung plastik, maka pesisir kita akan kehilangan perlindungan alaminya. Ini krisis yang nyata,” tutup Alaika.(r7)

Pos terkait