
Lumajang, (DOC) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan program Pasar Murah akan terus di perluas hingga akhir tahun 2025 sebagai langkah strategis Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Kebijakan ini di fokuskan untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus mempersiapkan kebutuhan masyarakat menghadapi Ramadan dan Idul Fitri.
Pasar Murah ke-290 di gelar di Balai Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jumat (12/12/2025). Program ini menjadi bentuk intervensi langsung Pemprov Jatim agar masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah, tetap dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Khofifah menegaskan bahwa penyelenggaraan Pasar Murah tidak di maksudkan untuk bersaing dengan pasar tradisional. Karena itu, lokasi pelaksanaannya sengaja di atur agar tidak berdekatan dengan pasar rakyat.
“Saya selalu minta Pasar Murah tidak di gelar dekat pasar tradisional, karena ini bukan kompetitornya pasar tradisional,” tegas Khofifah.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan bahan pokok menjelang Nataru hingga Idul Fitri berpotensi mendorong kenaikan harga. Oleh sebab itu, intervensi pemerintah di perlukan untuk menjaga keseimbangan pasar dan daya beli masyarakat.
“Kita ingin melakukan intervensi untuk stabilisasi harga. Setelah Nataru kita menghadapi Ramadan dan Idul Fitri. Maka Pasar Murah ini fokus pada sembako,” jelasnya.
Dalam Pasar Murah tersebut, sejumlah komoditas di jual dengan harga jauh di bawah harga pasar. Beras SPHP yang di pasaran mencapai Rp13.000 per kilogram di jual Rp11.000 per kilogram, atau Rp55.000 per kemasan 5 kilogram. Telur ayam di jual Rp22.000 per kilogram dari harga pasar sekitar Rp28.290 per kilogram. Gula pasir ID Food yang memiliki HET Rp17.800 per kilogram di jual Rp14.000 per kilogram, sementara minyak goreng premium di jual Rp13.000 per liter dari HET Rp16.800. Harga daging ayam juga di tekan menjadi Rp30.000 per kilogram dari harga pasar Rp35.000–Rp36.000 per kilogram.
Pentingnya Intervensi Harga
Khofifah menilai intervensi harga ini penting untuk menekan potensi inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga seperti bawang merah, telur, dan ayam harus kita intervensi. Warga tahu harga di pasar berapa dan di sini berapa. Dengan begitu daya jangkau mereka lebih terjaga,” tuturnya.
Untuk menjaga ketertiban dan pemerataan, pembelian sembako di Pasar Murah diatur menggunakan sistem kupon yang dibagikan kepada warga sejak memasuki area kegiatan.
Selain menyediakan bahan pokok murah, Pasar Murah juga melibatkan pelaku UMKM lokal, khususnya dari wilayah Pasirian. Khofifah meninjau sejumlah stan UMKM untuk melihat potensi produk yang dapat dikembangkan dan dikurasi dalam program misi dagang Pemprov Jatim.
Salah satu produk yang di nilai memiliki peluang besar adalah gula merah lokal, yang di nilai memiliki permintaan pasar cukup tinggi. “Saya sudah membeli sampelnya tadi. Di sini ada produsen gula merah, dan permintaan di luar cukup tinggi. Produk UMKM seperti ini punya potensi besar untuk kita kurasi,” pungkas Khofifah. (r6)





