
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya memastikan ekosistem di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya tetap terjaga. Dengan kondisi alam yang masih terjaga murni, pemkot kini membidik target besar untuk mentransformasikan kawasan konservasi tersebut menjadi pusat laboratorium magrove berskala internasional.
Langkah strategis ini diperkuat setelah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) KRM Surabaya resmi bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya untuk mempercepat pengembangan riset dan inovasi hayati di sana.
“Targetnya adalah bagaimana kita menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium mangrove yang ada di dunia. Harapannya, paling tidak 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia bisa kita miliki di Kebun Raya Mangrove,” ujar Kepala UPTD KRM Surabaya, Dian Prasetyaningtyas, Sabtu (27/6/2026).
Saat ini, KRM Surabaya memegang status sebagai satu-satunya kebun raya di Indonesia yang mengusung tema spesifik mangrove. Berbeda dengan wilayah lain yang masih berstatus hutan biasa, kawasan seluas 34 hektare yang mencakup wilayah Gunung Anyar-Medokan Sawah dan Wonorejo ini telah memenuhi standar dan fungsi penuh sebagai kebun raya terstruktur.
Sejauh ini, Pemkot Surabaya telah berhasil mengoleksi 74 spesies mangrove. Jumlah ini merepresentasikan hampir 30 persen dari total seluruh spesies mangrove yang ada di Indonesia.
“Kalau yang lain-lain di Indonesia kita ada 48 kebun raya, tetapi sifatnya tidak tematik. Untuk yang mangrove itu Surabaya satu-satunya,” jelas Dian.
Terjaganya kualitas ekosistem hasil pengawasan Pemkot Surabaya ini dibuktikan dengan suburnya habitat bagi berbagai satwa liar. KRM Surabaya kini menjadi rumah bagi sekitar 35 jenis burung, kawanan biawak, hingga beragam jenis kupu-kupu.
Bahkan, indikator paling valid mengenai keasrian alam KRM Surabaya adalah ditemukannya kucing bakau yang hidup liar di dalam kawasan tersebut berdasarkan riset dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Selain itu, terdapat pula fenomena unik seperti keberadaan kepiting pemanjat pohon yang dikenal beracun.
“Tidak banyak tempat ditemukan ada kucing bakau. Itu menunjukkan kalau ekosistemnya terjaga dengan baik dengan adanya keberadaan kucing bakau itu sendiri,” tegas Dian.
Ia menambahkan bahwa kucing bakau tersebut tidak dapat dikembangbiakkan dalam penangkaran dan hanya mampu bertahan di alam yang benar-benar lestari.
Meski vegetasi mangrove yang dikelola Pemkot Surabaya sudah tumbuh rapat dan mampu menghalau ancaman abrasi pesisir, tantangan ekologis tetap ada. Sebagai wilayah yang berada di geografis hilir, KRM Surabaya kerap menerima kiriman sampah pelancong dari aliran sungai berbagai daerah.
Pemkot Surabaya terus berupaya mengantisipasi hal ini agar sampah kiriman tidak menyangkut di akar napas mangrove, sehingga ambisi besar menjadikan KRM Surabaya sebagai laboratorium dunia dapat berjalan tanpa hambatan ekologis.





