
Surabaya, (DOC) – Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat upaya pencegahan kanker leher rahim. Langkah ini di lakukan melalui sosialisasi dan skrining rutin setiap bulan di semua kecamatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari deteksi dini. Program ini menyasar perempuan berusia 30 hingga 69 tahun.
“Deteksi dini kanker leher rahim di lakukan menggunakan dua metode, yakni self sampling dan provider sampling HPV DNA,” ujar Nanik, Jumat (17/1/2025).
Sebagai contoh, salah satu kegiatan sosialisasi dan skrining akan di gelar di Kelurahan Manukan Kulon. Di wilayah ini, Dinkes Surabaya menargetkan 5.500 peserta untuk mengikuti skrining HPV DNA.
Nanik menerangkan bahwa metode skrining menggunakan self sampling cukup sederhana. Jika hasilnya negatif, pemeriksaan akan di ulang lima tahun kemudian. Namun, jika hasilnya positif, pasien akan menjalani IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).
“Hasil IVA tersebut akan menentukan langkah lanjut. Bisa berupa thermal ablasi, atau rujukan ke RSUD BDH untuk prosedur LEEP,” jelasnya.
Selain melibatkan masyarakat, Pemkot Surabaya juga melatih tenaga kesehatan di Kelurahan Manukan Kulon. Pelatihan tersebut di ikuti oleh tujuh bidan, tujuh perawat, dan tiga dokter. Rangkaian skrining ini di jadwalkan kembali pada Februari, minggu ketiga April, hingga September 2025.
Pencegahan Lewat Imunisasi dan Skrining Gratis
Selain skrining, upaya pencegahan kanker leher rahim di optimalkan melalui imunisasi HPV. Program ini menyasar anak perempuan kelas 5 dan 6 di tingkat SD/MI. Di sisi lain, pemkot juga menyediakan layanan skrining gratis di 63 puskesmas di Surabaya.
“Semua puskesmas di Surabaya telah menyediakan layanan skrining IVA gratis. Layanan ini dapat di akses oleh perempuan usia 30 hingga 50 tahun yang sudah menikah atau pernah melakukan kontak seksual,” kata Nanik.
Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data fasilitas kesehatan, jumlah kasus kanker leher rahim terus menurun. Pada 2023, tercatat 413 kasus, sementara pada 2024, angka ini berkurang menjadi 201 kasus.
Nanik mengimbau masyarakat, terutama perempuan, untuk semakin peduli terhadap risiko kanker leher rahim. Ia mengajak warga untuk rutin memanfaatkan layanan skrining di puskesmas terdekat.
“Perempuan usia 30 hingga 69 tahun, ayo lakukan deteksi dini melalui IVA atau HPV DNA. Pemeriksaan ini gratis dan mudah di akses,” tutupnya. (r6)





