
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya memasang target tinggi dalam penanggulangan banjir di tahun depan. Sebanyak 120 titik genangan di berbagai wilayah Kota Pahlawan ditargetkan tuntas digarap sepanjang tahun 2026 melalui percepatan pembangunan infrastruktur drainase dan normalisasi saluran air.
Target ini merupakan bagian dari cetak biru (blueprint) penanganan banjir jangka panjang Pemkot Surabaya. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan sejak tahun 2020, total terdapat 1.015 titik genangan di Surabaya, di mana 440 titik di antaranya telah berhasil dituntaskan hingga akhir tahun 2025 lalu.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita, menegaskan bahwa penanganan 120 titik pada tahun 2026 ini akan fokus pada pembangunan saluran baru serta optimalisasi saluran yang sudah ada.
“Jadi untuk 2026 ini ada sekitar 120 titik yang akan kita tangani. Kita lakukan secara bertahap, dan untuk tahun 2027 nanti perencanaannya sudah kita mulai di tahun 2026 ini,” ujar Adi, Selasa (7/7/2026).
Adi menambahkan, selain membangun fisik drainase, proses perawatan atau normalisasi saluran menjadi kunci penting agar infrastruktur yang dibangun tidak sia-sia. “Normalisasi ini sangat penting sekali. Karena percuma kalau kita bangun (saluran) tapi tidak kita rawat,” imbuhnya.
Meski Pemkot Surabaya agresif mengejar target 120 titik tersebut, keberhasilannya sangat bergantung pada sinergi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Pasalnya, dari ratusan saluran yang ada, terdapat 30 saluran primer yang status kewenangannya berada di bawah Kementerian PU (melalui BBWS Brantas dan Balai Besar Bengawan Solo) serta Pemprov Jawa Timur.
Kepala DSDABM Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengungkapkan bahwa penanganan banjir di level kota akan pincang jika sungai-sungai besar di bagian hilir tidak segera dinormalisasi oleh pemerintah pusat.
“Sebenarnya kita kan enggak bisa ngomong Kota Surabaya saja yang bekerja. Di lain sisi juga ada kewajiban-kewajiban dari pemerintah pusat yang harus dilakukan,” kata Hidayat.
Beberapa poin krusial yang mendesak untuk ditangani pusat antara lain, tingginya pendangkalan di Sungai Surabaya, Kalimas, hingga Kali Jagir, dan realisasi penambahan pintu air di muara Kali Jagir untuk memperlancar arus pembuangan air ke laut.
“Kita percuma bikin saluran banyak tapi muaranya ternyata ada pendangkalan. Kami sudah bersurat ke pemerintah pusat dan berharap itu cepat dilakukan,” tegas Hidayat.
Di sisi lain, Adi Gunita mengingatkan bahwa pembangunan masif di kawasan permukiman (saluran tersier) tidak akan berdampak maksimal jika hulu dan hilirnya tersumbat. Oleh karena itu, ia mengetuk kesadaran warga Surabaya untuk menjaga lingkungan.
“Yang penting jaga saluran kita, jangan buang sampah ke saluran. Karena saluran yang kotor akan memperberat kinerja saluran itu sendiri maupun rumah pompa,” pungkas Adi.





