Jumlah Titik Genangan Surabaya Turun Signifikan Sejak 2021

Jumlah Titik Genangan Surabaya Turun Signifikan Sejak 2021

Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat kesiapan infrastruktur pengendalian banjir untuk mengantisipasi potensi curah hujan ekstrem yang di perkirakan terjadi pada Februari 2026. Langkah tersebut di lakukan melalui pembangunan rumah pompa baru, normalisasi saluran air, serta peningkatan kapasitas sistem drainase di sejumlah titik rawan genangan.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengatakan pemkot telah menyiapkan pembangunan beberapa rumah pompa baru di kawasan strategis.

“Di sekitar Gereja Bethany, kawasan Semolo, dan Nginden, kami bangun rumah pompa. Selain itu, satu lagi akan di bangun di Teluk Betung, kawasan Teluk Kumai,” ujar Hidayat, Sabtu (31/1/2026).

Dengan penambahan tersebut, jumlah rumah pompa di Surabaya akan bertambah lima unit dari total sebelumnya sebanyak 85 unit. Proses lelang pembangunan rumah pompa baru di jadwalkan berlangsung pada bulan ini dan bulan berikutnya.

Selain pembangunan infrastruktur baru, pemkot juga mengintensifkan normalisasi saluran air sebagai upaya utama menjaga kelancaran aliran. Normalisasi di lakukan dengan pengerukan menggunakan alat berat serta dukungan tenaga satuan tugas (Satgas).

“Kami lakukan normalisasi sekarang, baik menggunakan alat berat maupun melibatkan Satgas,” jelasnya.

Salah satu wilayah yang telah di lakukan normalisasi adalah kawasan Simo Kalangan yang memiliki tingkat sedimentasi cukup tinggi. Penanganan saluran lingkungan juga melibatkan Satgas kecamatan. “Selokan-selokan di lingkungan warga di tangani langsung oleh Satgas kecamatan,” tambah Hidayat.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa sistem drainase di Surabaya terus di evaluasi untuk menyesuaikan dengan perubahan pola curah hujan.

“Ada beberapa sistem drainase yang perlu di sesuaikan kapasitasnya karena intensitas hujan semakin tinggi,” kata Adi.

Intervensi Sistem Drainase

Pada tahun 2026, DSDABM melakukan intervensi terhadap 12 dari total 30 sistem drainase yang ada di Surabaya. Intervensi tersebut meliputi peningkatan kapasitas saluran dan pembesaran long storage.

Baca Juga:  Antisipasi Gangguan, Satpol PP Surabaya Turun Penuh Selama Libur

“Dari 30 sistem drainase yang ada, tahun ini kami melakukan preservasi pada 12 sistem,” ungkapnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Sejak 2021, jumlah titik genangan di Surabaya berhasil di tekan dari sekitar 220 titik menjadi sekitar 138 titik. Meski demikian, beberapa kawasan seperti Jalan Raya Tenggilis Mejoyo, Simo Kalangan, dan Margo Mulyo masih menjadi pekerjaan rumah yang akan di tangani secara bertahap dalam perencanaan lima tahun ke depan.

“Penanganan genangan itu ada tiga parameter, yakni tinggi genangan, lama genangan, dan luas genangan,” jelas Adi.

Khusus kawasan Margo Mulyo, genangan cenderung bertahan lebih lama karena karakteristik wilayah yang berada di cekungan, termasuk di bawah jalan tol dan area keluar Tol Margo Bumi. Meski telah di lengkapi Rumah Pompa Dongfeng, peningkatan kapasitas dan konektivitas saluran masih di perlukan.

Menghadapi puncak musim hujan Februari 2026, DSDABM memprioritaskan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) secara masif, terutama pengerukan rutin untuk mengurangi sedimentasi.

“Yang paling prioritas saat ini adalah operasi dan pemeliharaan saluran,” tegas Adi.

Ia menambahkan, selain kesiapan infrastruktur, peran masyarakat juga sangat penting, terutama dalam menjaga kebersihan saluran dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Selain ikhtiar sarana prasarana, edukasi terkait sampah juga harus terus kami intensifkan,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait