
Surabaya,(DOC) – Bursa Bakal Calon Walikota (Bacawali) dan Bakal Calon Wakil Walikota (Bacawawali) Surabaya diramaikan oleh hadirnya sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Satu diantaranya adalah Ahmad Wahyudin Hussein yang mendaftar Cawawali Surabaya lewat penjaringan Calon Kepala Daerah (Cakada) dari PDI Perjuangan. Pria yang akrab disapa Kaji Udin itu bukan sosok asing di kalangan warga Nahdliyin. Apalagi pernah menjabat sebagai Ketua DPC PKB Surabaya periode 2004-2009.
“Saya lebih berpengalaman dibandingkan calon lain dari NU” kata Kaji Udin Selasa(01/10/2019).
Kaji Udin yang pernah menjadi anggota DPRD Surabaya itu mengatakan, kalau hubungannya dengan tokoh NU sampai sekarang masih cair. “Dalam waktu dekat saya akan berkunjung ke Bu Gubernur Khofifah. Beliau sahabat saya di PKB dulu” jelasnya.
Pria yang pernah mendapat predikat pengusaha tahan banting dari majalah SWA di tahin 1998 itu optimis akan mendapatkan rekomendasi sebagai cawawali Surabaya dari PDIP. “PDIP akan sangat mempertimbangkan dukungan dari NU sehingga akan terbangun koalisi nasionalis religius” tegasnya. Untuk membangun koalisi itu, Kaji Udin mengaku sudah melakukan komunikasi dengan pimpinan PKB dan PDIP.
Di Pilwali Surabaya 2005 Kaji Udin pernah maju sebagai cawawali berpasangan dengan Ali Syahbana sebagai cawali. Tapi pasangan tersebut tidak memperoleh suara signifikan dibandingkan pasangan Bambang-Arif Afandi yang diusung PDIP.
“Saya akui itu sebagai kesalahan karena nafsu ingin maju sendiri akibat desakan orang-orang. Padahal suara PDIP dan PKB tidak terpaut jauh di pemilu 2004” ungkapnya.
Kalaupun nanti dirinya jadi maju lagi di Pilwali Surabaya 2020, Kaji Udin berharap dukungan dari masyarakat khususnya di kawasan Ampel yang merupakan wilayah padat penduduk di Surabaya. “Saya asli Ampel. Ini wilayah bersejarah dan sudah ada sejak jaman majapahit” pungkasnya.(robby)
