D-ONENEWS.COM

Perubahan Perilaku Kunci Melandainya Kasus Covid di Surakarta, Tekankan ke Warga

Solo,(DOC) – Angka Covid-19 di Kota Surakarta akhir – akhir ini melandai yang menyisakan zona oranye di Tegalharjo kecamatan Jebres. Zona merah sudah tidak ada. Menurut Sekda Ahyani, pengendalian Pandemi Covid 19 di Kota Surakarta masih jauh lebih baik dari kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah. Di Kota Surakarta angka kesembuhan lebih tinggi daripada yang terkena Covid 19.

Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka mengatakan akan lebih menggaungkan lebih kencang lagi pelaksanaan protokol kesehatan ( prokes ) dengan menekankan pada perubahan perilaku masyarakat yang kian abai menjalankan prokes 5 M ( Memakai Masker, Mencuci Tangan Dengan Sabun Pada Air mengalir, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan dan Membatasi Mobilisasi Dan Interaksi. Perilaku diubah untuk melakukan prokes sebagai budaya.

Hal tersebut disampaikan Gibran pada Rapat Pengendalian Covid 19, Senin(31/5/2021) diruang Manganti Praja Balaikota Surakarta yang dihadiri Sekda Ahyani, Kapolres Surakarta AKBP Adhe Safri Simanjuntak, Kepala DPRD Budi Prasetyo, perwakilan Korem 074 dan Dandim 0735 Surakarta serta diikuti OPD terkait dan seluruh Camat di Kota Surakarta.

“Satgas Covid 19 harus mengagendakan perubahan perilaku terjadi di masyarakat dan harus pula ada monitoring dampak komunikasi pubik sosialisasi perubahan perilaku. Dengan sangsi saja tidak cukup untuk mengendalikan Covid 19,” tandas Walikota Gibran.

Dalam arahannya, Walikota mengatakan, pasca Hari Raya Idul Fitri, situasi Kota Surakarta terkait Pademi Covid 19 cukup baik dan masih cukup terkendali. “Untuk vaksinasi tetap kita percepat seiring sejalan sambil menyelesaikan vaksinasi untuk lansia. Protokol kesehatan saya minta dipromosikan lebih kencang lagi. Saya kira dalam 2 minggu BOR ( Bed Occupancy Rate ) akan menurun tapi harus tetap waspada kuncinya dengan Prokes 5 M,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, Gibran mengusulkan untuk lebih mempercepat pemulihan ekonomi, semua pusat perbelanjaan di Kota Surakarta akan diperbolehkan mengjinkan anak di bawah lima tahun memasuki mall dengan syarat semua staf dan pimpinan sudah divaksin dan pemberlakuan prokes ketat, hajatan diperbolehkan sampai mengundang 500 orang namun dengan syarat kontrol ketat pada Protokol Kesehatan. “Kita lihat progres selama 2 minggu. Kalau masih terkendali, kita ajukan Work From Solo. Event – event yang tertunda kita arahkan mulai digelar,” kata beliau.

Walikota Gibran mengemukakan ide untuk menjadikan Kota Surakarta Sebagai Pusat Vaksinasi Solo Raya sehingga daerah sekitar Solo Raya bisa divaksin di Kota Solo mengingat kabupaten di sekitar Kota Solo lambat dalam gerakan vaksinasinya. “Dihitung dulu kebutuhan seperti apa yang kita perlukan. Nanti kalau sudah kami usulkan pada kementrian,” ucap Gibran.

“Kalau Kota Surakarta sendiri yang hijau sedang daerah sekitar oranye atau bahkan merah, ya percuma. Yang berbahaya justru di Solo Raya. Kita bentuk tim gabungan kita pusatkan di Kota Solo,” terangnya.

Sementara, Ahyani sebagai Ketua Gugus Tugas Covid 19 Kota Surakarta mengatakan, pihaknya akan menguatkan promosi untuk mengubah perilaku tidak hanya pada pelayanan masyarakat saja namun juga pada kegiatan usaha, kegiatan wisata dan kegiatan masyarakat yang bersifat pengumpulan masa agar sesuai dengan protokol kesehatan. “Kami minta dinas atau OPD terkait bisa menyampaikan pada masyarakat secara langsung,” jelasnya.

Strategi perubahan perilaku menurut Sekda, dilakukan dengan promosi atau kampanye perubahan perilaku, melawan hoax atau disinformasi, kemitraan dengan berbagi kalangan, Ketua RT / RW, Lurah bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas menjadi ujung tombak mengubah perilaku masyarakat sesuai proyokol kesehatan.

Sementara, Juru bicara satgas Covid 19 Kota Surakarta, Mila menjelaskan untuk SE PPKM Mikro Ke 11 pasca lebaran masih menunggu hasil Rapat Satgas Covid Pemerintah Pusat malam nanti.

Disampaikan, PPKM tahap 10, antara peningkatan angka Covid dan kesembuhan terjadi kesenjangan yang semakin melebar. Positivity Rate Kota Solo sudah membaik di angka 16,9 namun masih tinggi (standar <5 %). Di atas Pusat (11,91 %) dan di bawah Provinsi Jawa Tengah.

“Sehingga diperlukan kegiatan simultan berupa peningkatan ratio contact tracing, peningkatan jumlah atau ratio testing yang menyasar, optimalisasi kapasitas laboratorium dan percepatan penyampaian hasil untuk tindakan isolasi /karantina,” jelasnya.

Peran pemerintah dalam menekan angka Covid 19 selain menerapkan 5 M sebagi pelengkap 3M juga  memiliki gerakan 3T, yakni Testing,Tracing, dan Treatment.

Aksi 3T ini dilakukan oleh pihak terkait untuk melakukan pengujian, pelacakan, kemudian tindakan pengobatan atau perawatan kepada orang yang terpapar virus tersebut.

Pengendalian terkecil dilakukan dengan implementasi micro lockdown, memaksimalkan peran posko kelurahan, skenario pengendalian hingga level RT berjalan, pendataan kasus di level RT dan identifikasi sumber penularannya.

Selain itu harus ditumbuhkan kesadaran dan gotong royong masyarakat untuk saling menjaga. Pengetatan pelaksanan 3 M an penegakan disiplin mutlak diperlukan.

Kepala Dinas Kesehatan Siti Wahyuningsih menjelaskan, dari sisi kesehatan atau epidemilogi, perkembangan kasus Covid 19 di Kota Surakarta masih fluktuatif juga dengan melihat perkembangan di daerah lain seperti Kudus, Jepara dan Cilacap.

Dengan pergerakan manusia yang tidak bisa dihindari, kewaspadan tetap harus ditingkatkan. “Masyarakat masih belum merasa butuh pada protokol kesehatan. Masih terkesan melihat prokes sebagai aturan dan bukan hal yang dibutuhkan. Kalau protokol kesehatan sudah menjadi budaya di setiap orang, maka orang pakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan sudah menjadi kebutuhan karena ingin melindungi diri. Kita harus menyadarkan masyarakat prokes merupakan salah satu kebutuhan utama,” terangnya.

Ditambahkan, kasus Covid di Kota Surakarta masih fluktuatif dengan angka BOR yang naik 59 % dan BOR ICU 75 %. ICU pada posisi tersebut tergolong pada lampu merah atau sudah merupakan peringatan karena ICU di kabupaten sekitar sangat sedikit. Karena jika kasusnya berat selalu dilimpahkan ke Surakarta. Kabupaten sekitar pelaksanaan prokes masih kendor sehingga Kota Surakarta harus waspada karena mobilitas warga sekitar yang bekerja di Surakarta.

Dilaporkan, pelaksanaan vaksinasi di Kota Surakarta sudah mencapai 75 ribu warga ( 73 ribu dinaikkan karena pelayanan publik sudah 25 % ). Kekurangan 33.500 warga yang belum divaksinasi segera dilakukan. Vaksinasi untuk lansia sudah 41.950 dengan target 49.000 orang. Sedangkan pra lansia kebutuhan 150.000 warga.

Untuk vaksin gotong royong sudah mulai dilakukan, Kota Surakarta menunggu giliran. Vaksin gotong royong yang berasal dari Sinofarm termasuk vaksin mandiri dan tidak melibatkan pemerintah dan hanya bertugas memonitor saja.

Perusahaan akan mendaftar ke Bio Farma atau ke Kadin. Kadin meneruskan ke Bio Farma dan akan dilakukan seleksi dan Bio Farma akan mengirimkan vaksin ke fasilitas kesehatan.

Direncanakan Senin hingga Rabu untuk Vaksin Gotong Royong dan Kamis hingga Sabtu untuk Vaksin Program. 14 RS swasta melayani Vaksin Gotong Royong dan RS Pemerintah melayani Vaksin Program.(jj/r7)

Loading...

baca juga