Pilpres, Waktunya Generasi Milennial Menetapkan Masa Depan Bangsa

Surabaya,(DOC) – Adanya peran aktif dan kepedulian generasi Milennial dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 menjadi kunci sukses keberhasilan pembangunan dan masa depan bangsa yang cerah.

Demikian dikatakan Anggota DPRD Jatim, Sri Untari saat peluncuran platform Millennials Memilih dan diskusi publik, pada Kamis (31/11) sore di Surabaya. Dalam diskusi, turut hadir politisi PAN Mulyadi, Politisi PDIP Sri Untari, pengamat politik Airlangga Pribadi, serta dua selebgram, Ribka Budiman O Sugiharto dan Stefani Gabriella.

Anggota DPRD Jatim, Sri Untari mengatakan, generasi kaum milenial adalah generasi pengubah bangsa. Oleh karena itu, keberadaannya harus turut serta dalam memilih pemimpin bangsa sekaligus sebagai generasi yang menjadi penegak demokrasi bangsa.

Adanya pemilihan presiden tahun 2019, ini adalah momentum untuk menetapkan masa depan bangsa. Tahun depan, masuk era bonus demografi dan itu berada di ranah generasi milenial dan bisa menjawab bangsa semakin jaya atau terpuruk. “Karena itu, saat ini adalah saat yang tepat generasi muda menunjukkan jati dirinya. Kalian harus terlibat aktif dalam menentukan masa depan bangsa,” ujarnya.

Pengamat Politik dari Unair, Airlangga Pribadi mengatakan, ia memiliki beberapa catatan mengenai keterlibatan milenial dalam dunia politik di Indonesia pasca reformasi. Runtuhnya Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun tidak lepas dari peran pemuda. Tanpa hadirnya pemuda Indonesia tidak mungkin merdeka. Sosok muda Soekarno dan Mohammad Hatta yang memberi gambaran bahwa pemuda adalah mereka yang memiliki semangat perubahan.

“Pemuda itu inisiator bangsa. Penting supaya mereka terlibat politik karena mereka adalah penentu masa depan. Tapi, antusiasme mereka hari ini sangat minim. Kenapa? Tidak sepenuhnya salah mereka juga. Pemuda juga mungkin jengah dengan politik oligarki, politik dinasti, korupsi, sehingga politik tidak menjadi ruang yang baik dan memuaskan bagi mereka,” terangnya.

Menurut Airlangga, kesalahan elit politik adalah sekedar menjadikan pemuda sebagai kepentingan elektoral. Mereka hanya didekati ketika momentum Pileg dan Pilpres. Masing-masing mengaku yang paling muda dan dekat dengan generasi milenial.

Menurut Airlangga, pemuda harus dipandang lebih dari penghasil suara elektoral. “Kita harus membaca keterlibatan politik dengan kaum milenial secara interaktif. Partai politik misalnya, harus menjadi sarana yang baik bagi pemuda untuk menyampaikan aspirasi. Itu penting karena mereka adalah masa depan negeri ini.” Ujarnya.

Dari perspektifnya, kaum milenial adalah mereka yang mengalami kerentanan hidup. Siklus kehidupan yang monoton dari sekolah, kuliah, hingga mencari kerja kerap berujung kepada krisis kehidupan. Alhasil, pemuda sering disalahgunakan untuk kepentingan politik tertentu. (wan/jn/Put)