D-ONENEWS.COM

Prihatin Melihat Kondisi Sungai, Mapalas Unitomo Cetak Kader Peduli Lingkungan

Foto: Mapala Unitomo Saat Memantau kualitas air Sungai Surabaya

Surabaya,(DOC) – Prihatin dengan kondisi sungai di Surabaya, sekelompok mahasiswa yang tergabung di Mapalas Universitas dr Soetomo (Unitomo), melakukan pengamatan di sepanjang sungai Jagir atau Kali Londo. Melalui Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) ke XXXV, Mapalas mengkader anggota barunya untuk selalu peduli kondisi lingkungan.

Disampaikan Ketua Umum Mapalas Riska Widowati, kegiatan pengamatan lingkungan sungai dari Gunungsari hingga Wonorejo Rungkut itu merupakan kegiatan yang pertama dilakukan organisasinya. “Pada tahun-tahun sebelumnya, kami (Mapalas, red) melakukan pengamatan terhadap lingkungan di areal sepanjang rel PT KAI dari Krian sampai Surabaya. Kami melakukan sosiologi pedesaan untuk mengetahui kondisi sekitar,” ujar Riska didampingi Ketua Pelaksana Diklatsar XXXV Adinda Laura Bitin Berek, Rabu(13/11/2019).

Dalam pengamatan itu, Mapalas berusaha mencari tahu tentang kesehatan sungai. Hal ini terbagi dengan beberapa langkah. Seperti mengamati kondisi banyaknya sampah, ekosistem sungai, kondisi air hingga mencari tahu pendangkalan air. Mereka juga mencari tahu apa penyebabnya hingga menawarkan solusinya. “Hasil pengamatan ini juga kami usahakan dituangkan dalam bentuk laporan tertulis atau jurnal. Sehingga ke depannya kita bisa mengedukasi warga di bantaran untuk menjaga sungainya tetap sehat,” tambah Riska.

Sementara terkait kesehatan sungai, Adinda Laura Bitin Berek menjelaskan, pihaknya saat melakukan pengamatan ekosistem sungai tak harus menggunakan peralatan mahal dan canggih. “Kami memakai metode biotilik yang menawarkan cara sederhana tetapi efektif. Ini lebih mudah dan murah untuk memantau sampai sejauh mana kesehatan ekologis sungai dan daerah alirannya,” beber cewek yang akrab disapa Lala.

Lebih lanjut dia menjelaskan, biotilik atau biomonitoring sendiri adalah metode pemantauan kesehatan sungai dengan menggunakan indikator hewan tidak bertulang belakang, seperti bentos, capung, udang, siput, dan cacing. Hasil pemantauan biotilik dapat memberikan petunjuk adanya gangguan lingkungan pada ekosistem sungai, sehingga dapat dirumuskan upaya penanggulangan yang dibutuhkan.

Dalam kegiatan Diklatsar XXXV Mapalas, tak hanya melulu pada penelitian, tapi juga fokus kepada fisik dan mental calon anggotanya. Pasalnya kader Mapalas ini juga dipersiapkan sebagai potensi untuk penanggulangan bencana. “Kami berharap melalui motto kami, Dengan Segenap Cinta Kasih Dan Pengabdian Kami Datang, pada pendidikan ini benar-benar bisa melahirkan kader yang dibutuhkan dan berguna bagi masyarakat serta lingkungan,” tegas Riska.(r7)

Loading...