
Surabaya, (DOC) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mendorong integrasi seluruh layanan medis di kota ini lewat sistem Satu Data Kesehatan Surabaya. Platform real-time ini ditargetkan wajib diadopsi oleh seluruh rumah sakit (RS) di Surabaya dalam waktu satu bulan ke depan. Sistem ini akan mengoneksikan data krusial dari 69 rumah sakit se-Surabaya, mulai dari ketersediaan bed, jumlah dokter spesialis, armada ambulans, hingga sebaran penyakit di setiap wilayah.
“Jangan sampai pasien dibawa ke satu rumah sakit lalu ditolak karena penuh, kemudian berpindah lagi ke rumah sakit lain yang juga penuh. Di era digital, informasi kapasitas layanan harus bisa diakses secara langsung agar pasien segera selamat,” ujar Wali Kota Eri saat membuka Forum Koordinasi Rumah Sakit se-Surabaya di Graha Sawunggaling, Kamis (25/6/2026).
Bukan tanpa alasan Pemkot Surabaya mempercepat digitalisasi ini. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, urusan kesehatan menjadi prioritas utama dalam laporan kegawatdaruratan di Kota Pahlawan.
Tercatat 37.000 kasus trauma per tahun melalui panggilan darurat yang masuk ke Command Center 112, jumlah tersebut belum termasuk kasus non-trauma.
Menurut Eri, dengan jumlah kasus tersebut, tidak bisa semuanya dibebankan kepada tiga RS milik Pemkot Surabaya. “Untuk itu, diperlukan sinergi dari total 69 rumah sakit yang ada di Surabaya (68 RS darat dan 1 RS terapung),” imbuhnya.
Eri menjelaskan, dengan sistem Satu Data, layanan kedaruratan yang terhubung dengan Tim Gerak Cepat (TGC) dan Command Center 112 akan langsung tahu ke mana pasien harus dirujuk secara presisi.
Selain mempercepat rujukan, sistem ini memiliki tiga fungsi strategis, yaitu mendukung operasional program Satu RW Satu Nakes dan Satu Kelurahan Satu Ambulans, sebagai deteksi wabah sedini mungkin, dan pemerataan peras RS swasta.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa sistem ini sebenarnya sudah berjalan mulus di tiga rumah sakit milik Pemkot Surabaya, yaitu RSUD dr. Soewandhie, RS Bhakti Dharma Husada (BDH) dan RSUD Eka Candrarini.
“Kini saatnya memperluas jaringan. Dengan sistem ini, petugas di lapangan bisa melihat kapasitas RS secara real-time. Proses rujukan dipastikan akan jauh lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” ujar dr. Billy.





