Tiga SD di Gresik Deklarasikan Aksi Selamatkan Bumi Bareng Aktivis Global Save Soil

Tiga SD di Gresik Deklarasikan Aksi Selamatkan Bumi Bareng Aktivis Global Save Soil
Tiga SD di Gresik Deklarasikan Aksi Selamatkan Bumi Bareng Aktivis Global Save Soil

Gresik, (DOC) – Tiga sekolah dasar di Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, mendeklarasikan tiga aksi nyata untuk menyelamatkan bumi. Kegiatan ini terinspirasi dari kampanye global Save Soil yang di bawa oleh Sahil Jah, pemuda 19 tahun asal India, yang tengah bersepeda keliling dunia untuk mengedukasi masyarakat tentang krisis kesehatan tanah.

Sahil memulai perjalanannya dari Australia, melintasi Bali dan Jawa, dan kini singgah di Gresik. Di sana, ia berkolaborasi dengan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) dan menggelar aksi penanaman pohon di bantaran Kali Surabaya, Rabu (11/6/2025), bersama tim Ecoton dan siswa dari SDIT Ya Bunayya, SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, serta UPT SDN 192 Gresik.

Bacaan Lainnya

Keesokan harinya, Kamis (12/6/2025), para peserta mendeklarasikan tiga aksi penyelamatan bumi yang berbasis pada kesadaran krisis nutrisi tanah.

Tiga Aksi Penyelamatan Bumi:
  • Menanam pohon secara aktif untuk menciptakan keteduhan dan meningkatkan kelembaban tanah.
  • Mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, yang merusak tanah dan membunuh mikroorganisme penting.
  • Meningkatkan nutrisi tanah dengan penggunaan kompos, ekoenzim, dan pupuk kandang guna menghidupkan kembali mikroorganisme tanah.

“Bumi kita saat ini kekurangan nutrisi. Ini mengancam ketersediaan pangan. Karena itu, kita terpanggil untuk memberi nutrisi kembali pada tanah,” ujar Alaika Rahmatullah, salah satu peserta deklarasi.

Fakta yang Menjadi Latar Belakang Gerakan:

1. 90% tanah pertanian dunia terancam hilang dalam 25 tahun ke depan jika degradasi tanah tidak di hentikan.

2. Penurunan nutrisi tanah berdampak pada turunnya hasil panen hingga 40%.

3. Kehidupan mikrofauna seperti cacing dan mikroba tanah terancam oleh penggunaan pupuk kimia dan alih fungsi lahan.

4. Menurunnya kualitas air juga berkaitan erat dengan tanah yang kehilangan kemampuan menyerap dan menyaring.

“Seratus tahun lalu satu jeruk cukup memenuhi kebutuhan nutrisi. Sekarang, kita perlu delapan jeruk untuk hasil yang sama,” ungkap Sahil di hadapan peserta.

Baca Juga:  Ecoton Desak Pengakuan Hak-Hak Sungai Brantas sebagai Makhluk Hidup

Sahil juga menyoroti bahwa penurunan kualitas tanah tidak hanya di picu oleh praktik pertanian intensif dan penggunaan pupuk kimia, tetapi juga oleh penutupan lahan dengan beton, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, dan minimnya praktik pertanian alami.

“Menanam pohon bukan sekadar simbolis. Ini adalah upaya nyata menjaga kelembaban dan kehidupan mikroorganisme tanah,” kata Sahil.

Isu Baru

Selama di Ecoton, Sahil juga mempelajari isu baru seperti kontaminasi mikroplastik di tanah dan air. Menurutnya, plastik kini tak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi juga merusak kualitas tanah dan berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.

“Kami berharap generasi muda terlibat menjaga tanah, terutama dari ancaman mikroplastik,” kata Prigi Arisandi, pendiri Ecoton. “Aksi Sahil ini menjadi contoh bahwa perubahan besar bisa di mulai dari langkah kecil.”

Melalui kampanye Save Soil, Sahil mendorong anak-anak muda di seluruh dunia untuk peduli terhadap kondisi tanah sebagai fondasi keberlanjutan pangan dan lingkungan. Deklarasi tiga aksi dari para siswa di Wringinanom menjadi bukti bahwa gerakan lingkungan hidup dapat menyentuh semua kalangan—dan perubahan bisa di mulai dari bangku sekolah.

 

Pos terkait