Wamen Atip: Sekolah Harus Jadi Rumah Nilai-Nilai Pancasila

Wamen Atip Tegaskan Urgensi Karakter Kebangsaan di Hadapan Guru dan Siswa
Wamen Atip: Sekolah Harus Jadi Rumah Nilai-Nilai Pancasila

Malang,(DOC) – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan pentingnya mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Balai Besar Guru Penggerak dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur, Senin (2/6).

Dalam amanatnya, Wamen Atip mengajak peserta upacara untuk kembali merenungi akar sejarah lahirnya Pancasila. Ia mengingatkan pertanyaan mendasar Dr. Radjiman Wedyodiningrat saat sidang BPUPKI: “Atas dasar apa negara ini akan berdiri?”. Pertanyaan tersebut, kata Atip, di jawab dengan penuh keyakinan oleh Bung Karno melalui gagasan philosophische grondslag, yang kini kita kenal sebagai Pancasila.

Bacaan Lainnya

“Pancasila bukan hanya hasil perenungan Bung Karno, tapi juga buah dari proses panjang dan kebesaran hati para pendiri bangsa. Tugas kita hari ini adalah menjaga, merawat, dan menghidupkannya kembali, terutama di dunia pendidikan,” tegas Atip.

Ia menekankan bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang mewarisi dan di warisi oleh Pancasila. Maka dari itu, seluruh insan pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan sekolah.

Sehari sebelum peringatan, Wamen Atip juga mengunjungi beberapa satuan pendidikan di Jawa Timur. Salah satunya adalah Pondok Pesantren eLKISI di Mojokerto dan SD Daarul Fikri di Malang. Kunjungan itu turut di hadiri oleh Sekretaris Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus, Muhammad Hasbi, serta anggota Komisi X DPR RI, Gamal Albinsaid.

Dalam dialog bersama ratusan guru dan siswa, Wamen Atip kembali menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang hidupnya semangat kebangsaan.

“Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer ilmu. Ia adalah arena pembentukan karakter. Di sanalah nilai-nilai Pancasila harus hidup—di dalam kelas, di lapangan, dan di setiap interaksi antarpeserta didik,” ungkapnya. (r6)

Pos terkait