34 Pertanyaan Dilontarkan Jaksa, Darmawan Bantah Kenal Dekat Pengusaha ‘ST’

foto : Darmawan Wakil Ketua DPRD Surabaya Fraksi Gerindra, saat istirahat di Kejari Tanjung Perak Surabaya

Surabaya,(DOC) – Tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak menghentikan pemeriksaan terhadap Darmawan, Wakil Ketua DPRD Surabaya, sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi dana hibah berbentuk jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) tahun 2016 lalu, sekitar pukul 14.00 WIB, Rabu(1/8/2018).

Salah satu penyidik Pidsus Kejari Tanjung Perak menyebutkan, bahwa ada sekitar 34 pertanyaan yang diajukan oleh tim penyidik kepada saksi (Darmawan,red), terkait mekanisme pengajuan Jasmas melalui proposal permohonan dan lainnya.

Saat dikonfirmasi terpisah oleh sejumlah media di kedai kopi sekitar kantor Kejari Tanjung Perak Surabaya, Wakil Ketua DPRD dari fraksi Gerindra ini membenarkan, meskipun Ia tak hafal berapa jumlah pertanyaan yang di ajukan.

“Gak hafal, sekitar puluhan lah. Tapi yang jelas pemeriksaan jaksa seputar mekanisme pengajuan proposal,” jawab Aden sapaan akrab Darmawan.

Diwaktu sebelumnya, Aden mengakui, bahwa oknum anggota legislative berinisial ‘D’ yang selama ini disebut – sebut dalam pemberitaan, adalah namanya.

Namun, Aden membantah jika dirinya kenal dekat dengan pengusaha berinisial ‘ST’ dan menjalin kerjasama terkait dana hibah berbentuk Jasmas tahun 2016.

Malah, ia merasa gerah dengan ulah ‘ST’ yang menyeret namanya dalam muara dugaan korupsi Jasmas 2016 untuk pembuatan terop, kursi, meja, Sound System dll.

Menurut dia, oknum ‘ST’ ini bisa di bilang asal ngomong, karena dari berbagai sisi, tak satu pun ada kesamaan, seperti dari segi umur hingga jenjang waktu saat menempuh pendidikan di Universitas.

“Coba ditanyakan ke yang bersangkutan, saya ini lulus tahun berapa?, umur saya ini berapa?, umur dia itu berapa?, Trus saya ini bukan alumni yang dia sebutkan itu. Saya alumni Bhayangkara,” bebernya saat ditemui waktu istirahat pemeriksaan di ruang Pidsus lantai II Kejari Tanjung Perak.

Lebih lanjut Darmawan menambahkan, sebelum menyelesaikan studi nya di Universitas Bhayangkara, ia juga pernah mengenyam pendidikan di kampus yang sama dengan ‘ST’.

Tetapi, lanjut dia, hal itu tak menjamin dirinya harus mengenal ‘ST’, apalagi sampai memberi jalan bertemu dengan anggota dewan lain untuk menjalin kerjasama.

“Saya pernah kuliah di Wijaya Kusuma yang disebutkan dia itu, Saya kuliah separoh perjalanan kemudian saya keluar. Kalau di bilang saya teman kuliah, saya di bilang satu alumni apalagi sampai diberitakan saya mengkoordinir. Wong saya itu gak tahu siapa yang ikut ngambil yang bersangkutan itu ke konstituen, dewan siapa-siapa itu saya gak tahu. Tahunya setelah berita itu ramai mencuat, nah itu baru,” jelasnya.

Ia juga membeberkan, awal perkenalannya dengan ‘ST’ yang saat itu ‘ST’ mendatangi tempat kerjanya dan mengaku teman kuliahnya hingga mempromosikan dirinya(‘ST’,red) sebagai keturunan angkat pendiri universitas tersebut.

“Memang dia datang ke kantor saya, datang ke kantor dewan, datang ke ruangan saya. dia cerita, dia dari alumni Wijaya Kusuma, saya tanya sampean alumni tahun berapa?, kuliah di apa?,.. Oh gak saya pendiri Wijaya Kusuma, saya kok gak pernah tau. Wong pendiri Wijaya Kusuma itu pak Said Golkar. Oh ya…, saya anak angkatnya pak Said,” jelas ceritanya.

Ditambahkan Darmawan, setelah pertemuan dengan ‘ST’ tersebut, ia semakin curiga, seolah-olah ‘ST’ ini akan memanfaatkan jabatannya untuk mendapatkan kegiatan yang dibiayai APBD.

“Dia ngomong bertele-tele banyak…, Udah gak usah ngomong bertele-tele, tujuannya apa kesini. Dia mau menawarkan barang, dia buat tenda dll..,. Kalau sampean nawarkan ke saya keliru, silakan sampean nawari ke masing masing pemohon, saya ngak ikut-ikut,” kata Darmawan diakhir ceritanya.(pro/r7)