
Surabaya, (DOC) – Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (AKAMSI) resmi mendeklarasikan gerakan “Mati Oerip Ngramut Kali Suroboyo”. Deklarasi ini berlangsung dalam forum Rembug Kali Surabaya di Wisma Jerman, Kota Surabaya.
Gerakan ini muncul sebagai upaya menyatukan berbagai elemen masyarakat untuk menyelamatkan Kali Surabaya dari krisis pencemaran. Momentum ini sekaligus menandai 50 tahun tragedi matinya ikan secara massal di sungai tersebut, yang pertama kali terjadi pada 2 Juli 1975.
Koordinator AKAMSI, Alaika Rahmatullah, menyebutkan bahwa memasuki musim kemarau 2025, kondisi Kali Surabaya diprediksi memburuk. Peningkatan suhu, penurunan debit air, serta lonjakan limbah industri dan domestik menjadi ancaman serius.
“Pabrik gula di sepanjang Kali Brantas akan mulai beroperasi, sementara debit air menurun. Ini memperberat pencemaran,” ujar Alaika.
Menurut AKAMSI, terdapat tujuh temuan utama yang mempercepat kerusakan sungai, mulai dari ribuan bangunan liar di bantaran sungai hingga rendahnya kesadaran publik.
Tujuh Masalah Utama Kali Surabaya
- Lebih dari 4.000 bangunan liar berdiri di bantaran Kali Surabaya, sebagian besar tanpa septic tank.
- Maraknya alih fungsi lahan bantaran meski masyarakat tahu itu melanggar hukum.
- Limbah industri daur ulang kertas dan plastik yang dibuang langsung ke sungai.
- Minimnya pengelolaan sampah membuat sungai dijadikan tempat buangan.
- Aktivitas penangkapan ikan dengan racun dan alat setrum.
- Mikroplastik ditemukan dalam rantai makanan sungai, dari plankton hingga yuyu.
- Rendahnya pengetahuan masyarakat, terutama Gen Z, terhadap peran sungai sebagai sumber air PDAM.
Syevanthy Amanda, mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, menambahkan bahwa kurangnya informasi soal Kali Surabaya membuat banyak anak muda tidak peduli.
“Kita ingin menumbuhkan rasa memiliki dan peduli warga terhadap sungai ini,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Pemulihan
Forum Rembug Kali Surabaya menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan yang memaparkan strategi pemulihan. Di antaranya yakni:
- BBWS Brantas membahas penanganan pemukiman liar,
- Perum Jasa Tirta I menjelaskan patroli sungai dan pengawasan limbah,
- PDAM Surya Sembada memaparkan pengolahan air baku,
- Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya memaparkan pengelolaan sampah dan pengendalian pembuangan ke sungai.
Diskusi di pandu oleh jurnalis CNN Indonesia, Miftah Farid, dan dihadiri lebih dari 100 komunitas, mahasiswa, serta perwakilan konsulat asing.
Belajar dari Sejarah
AKAMSI juga mengajak masyarakat mengingat sejarah perjuangan melawan pencemaran Kali Surabaya. Sejak insiden 1975, berbagai gubernur Jawa Timur telah mengambil tindakan tegas, mulai dari penutupan pabrik hingga penerbitan peraturan perlindungan ikan. Alaika berharap Gubernur Khofifah melanjutkan warisan positif itu.
“Setiap gubernur punya gebrakan untuk Kali Surabaya. Kini, kita menunggu gebrakan dari Gubernur Khofifah,” tutupnya. (r6)





