
Lumajang,(DOC) – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Sepanjang Kamis(15/5/2025), gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami tujuh kali erupsi, meski statusnya tetap berada pada Level II atau Waspada.
Data resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru menyebutkan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 03.04 WIB dengan kolom abu setinggi 900 meter dari puncak kawah, mengarah ke tenggara. Erupsi ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 95 detik.
Petugas PPGA Semeru, Liswanto, menjelaskan bahwa erupsi kedua terjadi pukul 06.44 WIB dan menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter ke arah barat daya. Sementara itu, erupsi ketiga muncul pukul 07.29 WIB dengan ketinggian kolom abu mencapai 900 meter di atas puncak, mengarah ke barat daya.
Erupsi keempat dan kelima terjadi pada siang hari, masing-masing pada pukul 13.52 dan 14.58 WIB. Keduanya tidak teramati secara visual, namun terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi antara 93 hingga 108 detik.
Erupsi keenam kembali tercatat pukul 17.46 WIB, juga tanpa visual letusan namun terdeteksi aktivitas bawah tanah melalui seismograf. Terakhir, erupsi ketujuh terjadi pukul 18.32 WIB, dengan kolom abu setinggi 300 meter yang mengarah ke barat daya.
“Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Saat laporan ini di buat, erupsi masih berlangsung,” ungkap Liswanto.
Warga Dilarang Beraktivitas di Sektor Tenggara
Meski aktivitas erupsi meningkat, PVMBG belum menaikkan status Gunung Semeru. Namun, sejumlah rekomendasi keselamatan tetap di berlakukan secara ketat. Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 kilometer dari puncak. Di luar itu, zona 500 meter dari sempadan sungai juga menjadi area terlarang karena risiko aliran lahar dan awan panas.
“Radius 3 kilometer dari kawah pun harus steril dari aktivitas warga karena berbahaya terhadap lontaran batu pijar,” tambah Liswanto.
Pihak berwenang terus melakukan pemantauan intensif. Warga diimbau tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi hoaks, dan selalu mengikuti instruksi dari BPBD, PVMBG, maupun pemerintah setempat demi keselamatan bersama.(imam)





