Surabaya,(DOC) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menggagas pembentukan Kampung Pancasila dan Satgas Kampung Pancasila di seluruh RT/RW. Dalam arahannya secara daring pada Jumat(4/7/2025), ia berbicara kepada seluruh Kepala Perangkat Daerah, camat, lurah, hingga Ketua RT/RW.
Langkah ini bertujuan menjadikan Surabaya sebagai kota yang sejahtera dan berkarakter Pancasila. Eri menekankan bahwa keluarga dan gotong royong harus menjadi pondasi utama pembangunan.
Eri mengaku prihatin terhadap berbagai persoalan sosial, terutama yang melibatkan anak-anak dan remaja. Ia menyebut, sebagian besar masalah anak berawal dari kondisi keluarga yang tidak harmonis atau kurang perhatian.
“Anak-anak tidak sepenuhnya salah. Mereka meniru apa yang mereka lihat dari orang tuanya sejak kecil,” ujar Eri.
Oleh karena itu, ia mendorong semua pihak untuk memperkuat peran keluarga dalam membentuk karakter anak.
Lima Tugas Satgas Kampung Pancasila
Sebagai langkah nyata, Eri menginstruksikan pembentukan Satgas Kampung Pancasila di setiap lingkungan. Satgas ini memiliki lima tugas utama:
- Membina dan mengawasi anak muda agar tidak terlibat geng motor atau aktivitas negatif lainnya.
- Bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan agama untuk menjalankan program edukatif di kampung.
- Mendorong pemilahan sampah dari rumah, sehingga anggaran pengelolaan bisa dialihkan untuk pendidikan dan UMKM.
- Mengembangkan potensi lokal seperti suplai bahan ke hotel atau pabrik untuk membuka lapangan kerja bagi lulusan muda.
- Mengawasi kos-kosan, agar tidak menjadi tempat yang memberi pengaruh buruk bagi anak-anak.
Wujudkan Gotong Royong Lewat Aksi Nyata
Eri menegaskan bahwa nilai Pancasila bukan hanya slogan. Melainkan, harus tampak dalam tindakan sehari-hari. Ia ingin gerakan ini melibatkan RT, RW, LPMK, Bunda PAUD, Kader Surabaya Hebat, komunitas, hingga perguruan tinggi.
“Mari kita hidupkan Pancasila dalam tindakan nyata: saling menjaga, menolong, dan membina lingkungan kita sendiri,” tegasnya.
Di akhir arahannya, Eri mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari semangat tolong-menolong yang tumbuh dalam masyarakat.
“Kebahagiaan kota ini bergantung pada rida Tuhan. Dan rida Tuhan datang ketika manusia saling membantu dalam kebaikan,” tutupnya.(r7)





