Gresik,(DOC) – Temuan mikroplastik dalam darah dan ketuban perempuan di Gresik membuat Ecoton mendesak pemerintah mengambil langkah tegas. Lembaga ini meminta Menteri Lingkungan Hidup (LH) mendorong delegasi Indonesia di INC 5.2 Jenewa untuk mendukung pengurangan produksi plastik dan melakukan pemantauan rutin mikroplastik di lingkungan, seafood, dan tubuh manusia.
Rafika Aprilianti, perwakilan Ecoton, khawatir perundingan Global Plastic Treaty di Jenewa akan gagal. Dalam surat terbuka kepada kepala delegasi Indonesia, ia mengingatkan bahaya serius konsumsi mikroplastik.
“Konsumsi mikroplastik meningkatkan risiko kanker, gangguan pernapasan, penyakit usus, serta infertilitas pada pria dan wanita. Mikroplastik juga memicu peradangan—kondisi awal kanker—dan bisa mengganggu kerja antibiotik,” ujarnya.
Alumni Biologi UIN Malang itu menegaskan, solusi utama adalah mengurangi produksi plastik dan memantau keberadaan mikroplastik di alam.
“Kita butuh aturan global yang mengikat secara hukum tentang bahan kimia tambahan dalam pembuatan kemasan plastik makanan seperti BPA, Phtalat, dan PFAS. Ketiga bahan ini mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Mereka harus dilarang dan dicantumkan di label produk plastik agar masyarakat lebih waspada,” tegas Rafika.(r7)





