Surabaya,(DOC) – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Sopoyono, Surabaya, perubahan kecil namun signifikan tengah berlangsung. Jika dulu transaksi di lapak sayur identik dengan uang tunai dan kembalian receh, kini bunyi notifikasi ponsel mulai menjadi hal yang lazim terdengar.
Mayoritas pedagang sayur dan kebutuhan dapur di pasar tradisional tersebut perlahan beradaptasi dengan sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Langkah ini di lakukan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru para pembeli yang semakin akrab dengan transaksi non-tunai.
Salah satunya adalah Nurhayati, pedagang sayur yang telah bertahun-tahun mengais rezeki di Pasar Sopoyono. Perempuan yang akrab di sapa Bu Nur ini mulai menggunakan QRIS sejak 2023 sebagai alternatif pembayaran selain tunai.
“Saya pakai QRIS ini sejak tahun 2023, bisa juga dengan cara transfer,” ujarnya sambil melayani pembeli, Sabtu (10/1).
Menurut Bu Nur, penggunaan pembayaran digital membuat proses transaksi jauh lebih praktis. Ia tak lagi di repotkan dengan uang kembalian, sementara pembeli bisa menyelesaikan pembayaran hanya dalam hitungan detik melalui ponsel.
“Lebih ringkas, jadi ya berusaha adaptasi dengan permintaan pasar,” tuturnya.
Adaptasi tersebut membawa dampak positif bagi lapaknya. Bu Nur mengakui, sejak melayani pembayaran non-tunai melalui QRIS, jumlah transaksi cenderung meningkat. Banyak pembeli merasa lebih nyaman berbelanja tanpa harus membawa uang tunai.
“Sejak ada QRIS memang ada peningkatan. Pembeli sekarang rata-rata sudah pakai QRIS,” katanya. (r6)





