Jakarta,(DOC) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang cenderung melandai pada 2026. Penilaian tersebut di sampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar beberapa waktu lalu.
Secara global, rilis data terbaru menunjukkan perbaikan ekonomi dunia meskipun masih di bayangi berbagai risiko. Aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi, namun dengan laju yang melambat seiring penurunan kepercayaan konsumen. Sejumlah lembaga multilateral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 tetap berlanjut, namun berada di bawah rata-rata pra-pandemi akibat meningkatnya tekanan fiskal di sejumlah negara utama.
Di Amerika Serikat, perekonomian masih menunjukkan kinerja solid. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 tercatat mencapai 4,3 persen (saar), di topang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi berbasis kecerdasan buatan. Inflasi yang melandai membuka ruang kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Sebaliknya, perlambatan ekonomi Tiongkok masih berlanjut, di tandai lemahnya konsumsi domestik, kontraksi PMI manufaktur, serta tekanan berkelanjutan di sektor properti.
Perbedaan arah kebijakan moneter global kian menguat. The Federal Reserve dan Bank of England masing-masing memangkas suku bunga, sementara Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Kondisi tersebut memengaruhi pasar keuangan global, di mana pasar saham dunia menguat di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi gelembung saham teknologi serta berakhirnya praktik carry trade akibat kenaikan suku bunga Jepang.
Di dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Inflasi inti pada Desember 2025 meningkat secara terkendali, sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi, dan neraca perdagangan mencatatkan surplus. Sentimen positif tersebut tercermin kuat di pasar keuangan domestik.
Kinerja Impresif
Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja impresif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup di level 8.646,94 atau menguat 22,13 persen secara tahunan (year on year), dengan rekor All-Time High (ATH) tercatat sebanyak 24 kali sepanjang tahun. Kapitalisasi pasar saham juga mencapai rekor tertinggi sebesar Rp16.005 triliun. Likuiditas pasar meningkat signifikan, tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian Desember 2025 yang menembus ATH sebesar Rp27,19 triliun, di dorong oleh meningkatnya peran investor ritel domestik.
Di pasar obligasi, tren penguatan berlanjut dengan Indeks Pasar Obligasi Indonesia (ICBI) tumbuh 12,27 persen secara tahunan, seiring penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Investor nonresiden juga mencatatkan arus masuk (inflow) baik di pasar saham maupun SBN pada Desember 2025, mencerminkan persepsi positif terhadap prospek ekonomi nasional.
Kinerja industri pengelolaan investasi turut mencatatkan capaian kuat. Nilai aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) mencapai Rp1.033,81 triliun, sementara Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tumbuh lebih dari 35 persen secara tahunan, di topang arus masuk dana investor yang solid. Jumlah investor pasar modal meningkat signifikan menjadi 20,36 juta, atau tumbuh hampir 37 persen di bandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, kinerja perbankan nasional terus menguat dengan profil risiko dan likuiditas yang terjaga. Kredit perbankan tumbuh 7,74 persen secara tahunan pada November 2025, terutama di dorong oleh kredit investasi yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh dua digit, sementara suku bunga kredit dan DPK melanjutkan tren penurunan.
Likuiditas perbankan berada pada level memadai, dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang rendah serta permodalan yang kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) di atas 26 persen. Untuk 2026, OJK memproyeksikan kinerja perbankan tetap solid, di topang kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat.
Sementara itu, sektor industri keuangan nonbank—meliputi asuransi, dana pensiun, dan penjaminan, secara umum tetap stabil dengan tingkat solvabilitas yang tinggi. Aset industri asuransi dan dana pensiun terus tumbuh, mencerminkan ketahanan sektor jasa keuangan nasional secara menyeluruh. (r6)




