Jakarta,(DOC) – Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kembali menjadi katalis utama perputaran konsumsi masyarakat. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja industri ritel nasional tetap berada dalam tren pertumbuhan solid pada Desember 2025, seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat di penghujung tahun.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE), Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 di prakirakan tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, sekaligus menegaskan berlanjutnya pemulihan permintaan domestik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kinerja positif tersebut di topang oleh pertumbuhan sejumlah kelompok barang utama.
“Kinerja penjualan eceran terutama di dorong oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor,” ujar Ramdan, Rabu (14/1).
Tak hanya tumbuh secara tahunan, penjualan ritel juga mencatat lonjakan signifikan secara bulanan. BI memprakirakan penjualan eceran pada Desember 2025 meningkat 4,0 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), jauh lebih tinggi di bandingkan pertumbuhan November 2025 yang tercatat 1,5 persen. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan intensitas konsumsi masyarakat selama libur panjang akhir tahun.
Lonjakan Penjualan
Lonjakan penjualan bulanan tersebut terutama di topang oleh mayoritas kelompok barang, dengan kontribusi besar berasal dari Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Pola ini mencerminkan kecenderungan konsumen memanfaatkan momentum akhir tahun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, hiburan, dan perangkat penunjang aktivitas digital.
Sebelumnya, pada November 2025, IPR secara tahunan juga mencatat pertumbuhan kuat sebesar 6,3 persen yoy. BI menilai capaian tersebut di pengaruhi oleh mulai meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, yang mendorong penjualan di berbagai kelompok barang.
Meski demikian, BI tetap mencermati potensi tekanan inflasi ke depan. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Februari 2026 tercatat meningkat ke level 168,6, naik dari 163,2 pada periode sebelumnya. Kenaikan ini di pengaruhi oleh ekspektasi masyarakat terhadap peningkatan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Namun, BI memperkirakan tekanan inflasi jangka menengah, khususnya pada Mei 2026—akan cenderung mereda. Perkiraan ini di dukung oleh upaya pengendalian inflasi yang berkelanjutan serta terjaganya pasokan barang kebutuhan pokok di pasar domestik. (r6)





