UMKM Surabaya Berjuang Naik Kelas, Terkendala Modal hingga Digitalisasi

UMKM Surabaya Berjuang Naik Kelas, Terkendala Modal hingga DigitalisasiSurabaya,(DOC) – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Surabaya terus berjuang bertahan sekaligus berkembang di tengah tantangan ekonomi. Keterbatasan modal hingga minimnya pemanfaatan teknologi masih menjadi kendala utama.

Di kawasan Tenggilis Mejoyo, berbagai produk kuliner rumahan tumbuh pesat. Mulai dari ayam krispi, siomay, kebab, hingga minuman tradisional seperti sinom menjadi andalan warga.

Bacaan Lainnya

Namun, potensi tersebut kerap terhambat masalah klasik, yakni keterbatasan modal.

Ketua UMKM Tenggilis Mejoyo, Pinto Yuliwati, menyebut banyak pelaku usaha kesulitan memenuhi pesanan dalam jumlah besar.

“Produk mereka sebenarnya sudah bagus. Tapi saat ada pesanan besar, belum tentu bisa langsung dipenuhi. Akhirnya harus pakai sistem DP 50 persen,” ujarnya, Selasa(14/4/2026).

Menurutnya, sistem uang muka tidak hanya membantu modal produksi, tetapi juga menghindari risiko penipuan.

Selain modal, tantangan lain datang dari sisi pemasaran digital. Pendamping UMKM, Dika Maharu, menilai banyak pelaku usaha belum memanfaatkan platform digital secara maksimal.

“Masih banyak UMKM belum masuk ke ekosistem digital. Padahal ini penting untuk memperkuat branding dan meningkatkan penjualan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta. Sinergi tersebut dinilai bisa membuka akses pelatihan, pendampingan, hingga pasar yang lebih luas.

Dika juga mengingatkan pelaku UMKM agar tetap menggabungkan strategi offline dan online. Bazar dan pameran masih efektif, tetapi harus didukung pemasaran digital.

Di tengah keterbatasan, pelaku UMKM di Surabaya terus beradaptasi. Mereka mencari cara agar tetap bertahan dan berkembang.

Dengan dukungan yang tepat, upaya mendorong UMKM naik kelas bukan lagi sekadar wacana.(ode/r7)

Baca Juga:  Antisipasi El Nino, Kementrian BUMN dan Pemkot Surabaya Gelar Pasar Murah

Pos terkait