BPBD Lumajang Petakan 7 Kecamatan Rawan Kekeringan, Puncak Diprediksi Agustus–September 2026

BPBD Lumajang Petakan 7 Kecamatan Rawan Kekeringan, Puncak Diprediksi Agustus–September 2026Lumajang,(DOC) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memetakan tujuh kecamatan rawan kekeringan seiring ancaman musim kemarau panjang dan fenomena El Nino pada 2026.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi, menyebut wilayah rawan meliputi Kecamatan Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang, Gucialit, Senduro, Padang, dan Tempeh. Ia menilai daerah tersebut hampir setiap tahun mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.

Bacaan Lainnya

“Wilayah utara seperti Klakah, Ranuyoso, dan Kedungjajang hampir setiap musim kemarau mengalami krisis air bersih. Untuk Kecamatan Padang, titik rawannya ada di Desa Kedawung dan Bondang,” ujarnya, Senin (4/6/2026).

Puncak Kekeringan Agustus–September

Yudhi menjelaskan, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan potensi kekeringan mulai terasa sejak April 2026.

Ia memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September.

Selain kekurangan air bersih, kondisi cuaca ekstrem juga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan perbukitan dan hutan Lumajang.

“Selain kekeringan, potensi kebakaran hutan juga harus diwaspadai,” katanya.

Ranuyoso Paling Terdampak

Yudhi mengungkapkan Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, menjadi salah satu wilayah dengan risiko paling tinggi.

Minimnya sumber air membuat warga selama ini bergantung pada pasokan dari wilayah perbatasan Kabupaten Probolinggo.

“Di Jenggrong tidak ada sumber air memadai, sehingga warga mengambil dari wilayah perbatasan,” jelasnya.

Siapkan Distribusi Air Bersih

BPBD Lumajang kini menyiapkan langkah mitigasi dengan mendata desa rawan kekeringan dan menyusun skema distribusi air bersih.

BPBD juga menggandeng Perumdam atau PDAM untuk memperluas jangkauan layanan.

Namun, Yudhi mengakui keterbatasan armada tangki menjadi tantangan utama dalam distribusi air saat musim kemarau.

“Satu tangki rata-rata hanya mampu enam kali pengiriman per hari. Karena itu, kami harus memetakan distribusi seefektif mungkin,” pungkasnya.(r7)

Pos terkait