Kenaikan Harga Solar Picu Lonjakan Harga Pasir di Lumajang hingga 30 Persen

Kenaikan Harga Solar Picu Lonjakan Harga Pasir di Lumajang hingga 30 PersenLumajang,(DOC) – Harga pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melonjak hingga 30 persen dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang digunakan untuk operasional alat berat di lokasi tambang.

Lonjakan harga tersebut dirasakan langsung oleh sopir truk pengangkut pasir hingga pelaku tambang, khususnya di wilayah Pasirian.

Bacaan Lainnya

Harga Pasir Tembus Rp650 Ribu per Truk

Iwan, sopir dump truk asal Pasirian, mengatakan harga pasir kini mencapai sekitar Rp650 ribu per truk dari lokasi tambang. Sebelumnya, harga masih berada di kisaran Rp450 ribu.

Menurutnya, operasional truk pengangkut relatif stabil karena masih menggunakan biosolar subsidi melalui sistem barcode. Namun, kenaikan harga pasir justru menambah tekanan bagi para sopir.

“Untuk operasional truk masih aman karena pakai biosolar subsidi. Tapi harga pasir yang naik ini membuat kami ikut tertekan,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, biaya operasional alat berat yang menggunakan solar nonsubsidi seperti Pertamina Dex menjadi faktor utama kenaikan harga.

“Alat berat tidak bisa pakai biosolar subsidi. Karena harga Dex naik, harga pasir ikut naik hampir 30 persen,” jelasnya.

Sopir Tambah Muatan Demi Tutup Biaya

Kondisi ini membuat sopir harus mencari cara agar tetap mendapatkan keuntungan. Salah satunya dengan menambah muatan melebihi kapasitas normal.

Biasanya satu truk mengangkut sekitar tujuh kubik pasir. Namun kini sopir membawa lebih dari delapan kubik agar biaya operasional tetap tertutup.

“Kalau tidak begitu, susah dapat untung. Tapi risikonya kendaraan jadi cepat rusak karena muatan berlebih,” ungkap Iwan.

Ia juga mengaku sebagian pasir dari muatan tambahan ditimbun terlebih dahulu untuk dijual kembali, sementara sisanya dikirim ke konsumen di wilayah Probolinggo.

Penambang pasir di Kecamatan Pasirian, Antok, menyebut kenaikan harga sudah terjadi sejak pertengahan April 2026. Ia mencatat kenaikan berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per rit.

Baca Juga:  Bayang-Bayang Regulasi Baru, Industri Kretek Jatim Cemas Nasib Pekerja dan Petani

“Kenaikan mulai terasa sejak 18 April. Harga solar nonsubsidi naik, jadi kami harus menyesuaikan harga jual,” katanya.

Pemkab Ingatkan Ancaman Daya Saing

Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai kondisi ini menjadi tantangan serius bagi rantai pasok sektor tambang pasir yang selama ini menjadi andalan daerah.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Lumajang, Muhammad Ridha, mengatakan kualitas pasir Lumajang masih tergolong unggulan di Jawa Timur.

Namun, ia mengingatkan bahwa daya saing tetap bergantung pada harga di pasaran.

“Pasir Lumajang kualitasnya unggulan dan stoknya melimpah. Tapi kenaikan biaya distribusi dan operasional memberi tekanan pada rantai pasok,” ujarnya.

Ridha menambahkan, jika harga terus naik, konsumen berpotensi beralih ke daerah lain yang lebih dekat dengan pasar seperti Malang atau Sidoarjo.

“Pelaku usaha harus beradaptasi melalui efisiensi dan strategi lain agar tetap kompetitif,” pungkasnya. (r7)

Pos terkait