Demi Seragam SMP Anak, Penjual di Masjid Al Akbar Ini Rela Kubur Rindu “Toron” ke Madura

Demi Seragam SMP Anak, Penjual di Masjid Al Akbar Ini Rela Kubur Rindu "Toron" ke Madura

Surabaya, (DOC) – Bau harum soto dan riuh rendah tawar-menawar memenuhi kawasan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS). Di antara ratusan Pejuang Nafkah yang mengais rezeki di sana, ada Endang (45), seorang perempuan paruh baya yang langkahnya tetap tegap meski gurat lelah tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Bacaan Lainnya

Bagi Endang dan sekitar 15 persen pedagang perantau di MAS, menjelang Hari Raya Iduladha adalah waktu yang krusial. Terutama bagi perantau asal Pulau Madura, Iduladha adalah momentum sakral untuk Toron atau tradisi pulang kampung yang wajib hukumnya untuk merajut silaturahmi.

Namun, Iduladha tahun ini menyisakan cerita berbeda bagi Endang. Ia terpaksa mengubur dalam-dalam rindunya pada tanah kelahiran. Ekonomi menjadi ganjalan utama, karena ketukan takbir hari raya tahun ini berbenturan keras dengan dimulainya tahun ajaran baru sekolah.

“Tahun ini tidak bisa toron. Ndak ada biayanya karena barengan dengan anak yang mau masuk SMP. Jadi uang tabungan  dialihkan dulu untuk bayar biaya masuk sekolah anak,” tutur Endang saat ditemui di sela-sela aktivitas dagangnya, Rabu (27/5/2026).

Baginya, masa depan sang buah hati jauh lebih sakral dibanding ongkos mudik yang menguras kantong.

Sementara itu, pemandangan berbeda

terlihat pada lapak dagangan milik Lukman (50). Pria asli Lamongan yang sehari-hari mengais rezeki dengan berjualan soto ayam ini tampak senang. Berbeda dengan Endang, Lukman memastikan diri akan bertolak kembali ke kampung halamannya esok hari.

Kepulangannya ke Lamongan bukan tanpa alasan. Selain melepas rindu dengan keluarga besar, Lukman sudah dinanti oleh warga kampungnya untuk mengemban amanah penting pada hari raya nanti.

“Baru besok, saya pulang kampung. Sekalian di rumah nanti saya jadi panitia pemotongan hewan kurban di kampung,” ujar Lukman.

Pos terkait