Berkah di Balik Aroma Kulit Kurban: Kisah Helmy Kebanjiran Rezeki Idul Adha

Berkah di Balik Aroma Kulit Kurban: Kisah Helmy Kebanjiran Rezeki Idul Adha

Surabaya, (DOC) – Di saat sebagian besar warga Surabaya sedang berkumpul bersama keluarga menikmati hangatnya semangkuk gulai atau sate daging kurban di moment Iduladha. Suasana berbeda justru dialami Helmy (45),ia harus bergelut dengan aroma menyengat dan terik matahari yang membakar kulit.

Bacaan Lainnya

Warga Jagir Wonokromo ini berdiri sigap di samping mobil bak terbukanya. Tangannya yang legam tampak cekatan menimbang lembar demi lembar kulit sapi dan kambing yang baru saja dikuliti dari berbagai masjid dan tempat penyembelihan.

Bagi Helmy, Iduladha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan kesempatan lain mengerakan roda ekonomi. Ia adalah salah satu pengepul musiman yang memastikan bahwa tak ada satu pun bagian dari hewan kurban yang terbuang sia-sia.

“Kalau hari biasa, saya paling hanya pasrah menunggu pasokan dari Rumah Potong Hewan (RPH). Tapi kalau Idul Adha begini, rasanya seperti ketiban bulan. Kiriman datang dari mana-mana, hampir tak ada putusnya,” ujar Helmy dengan senyum sumringah saat ditemui di kawasan Jagir Wonokromo, Kamis (28/5/2026).

Pemandangan sibuk ini tidak hanya milik Helmy. Di sudut Surabaya lainnya, seperti di kawasan Jalan Kalirungkut, atmosfernya serupa. Truk dan mobil bak terbuka hilir mudik dengan muatan daging kurban. Tumpukan kulit hewan setinggi gunung yang siap diantar ke penampungan sementara.

Lonjakan volume pasokan saat Hari Raya Kurban memang tidak main-main. Helmy mematok target yang cukup tinggi yakni, 7 hingga 8 ton per hari. “Kulit hewan yang masuk ke saya dididominasi kulit sapi, kambing dan domba,” imbuhnya.

Untuk mendapatkan harta karun musiman ini, Helmy merogoh kocek Rp 6.000 untuk setiap kilogram kulit sapi, dan sekitar Rp 15.000 per kilogram untuk kulit kambing. Angka-angka yang terlihat kecil ini, jika dikalikan berton-ton, menjadi napas ekonomi yang menghidupi banyak orang di sekitarnya.

Baca Juga:  Inilah Ciri-ciri Hewan Kurban yang Sehat dan Layak Konsumsi

Mungkin bagi sebagian orang, tumpukan kulit basah yang berbau amis dan dipenuhi lalat adalah hal yang dihindari. Namun di mata Helmy, tumpukan itu adalah bahan baku masa depan yang bernilai estetika dan kelezatan tinggi. Setelah dibersihkan dan digarami agar tidak membusuk, kulit-kulit ini akan dikirim ke berbagai pabrik pengolahan besar.

“Sebagian besar kulit sapi nanti berakhir jadi kerupuk rambak yang renyah itu. Nah, kalau yang kulit kambing atau sapi kualitas bagus, biasanya bertransformasi jadi sepatu, tas, atau kerajinan kulit mewah,” jelas Helmy.

Keberkahan Iduladha selalu berhasil memotret keindahan berbagi. Jika para mustahik (penerima kurban) tersenyum karena mendapatkan paket daging, maka Helmy dan para pekerja kasarnya tersenyum karena ada asap dapur yang mengepul lebih lama berkat berkah musiman ini.

Di balik peluh yang bercucuran dan bau amis yang menempel di bajunya, ada harapan sederhana yang dipikul Helmy di atas bak mobilnya. Harapan agar Iduladha tidak hanya membersihkan jiwa mereka yang berkurban, tetapi juga memberi napas lega bagi para pekerja kecil yang menggantungkan hidup dari sisa-sisa bagian hewan kurban.

Pos terkait