
Surabaya, (DOC) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan pasokan batu bara untuk sistem kelistrikan nasional mulai membaik. Kabar baik di sektor hulu ini berdampak langsung pada peningkatan suplai listrik di Jawa Timur, sehingga kebijakan pemadaman bergilir dipastikan akan dikurangi secara bertahap dalam minggu ini.
Sebelumnya, akibat penurunan kapasitas suplai batu bara secara mendadak, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur terpaksa melakukan pengurangan beban listrik harian hingga mencapai 445 Megawatt (MW). Hal ini memicu pemadaman berkala dalam dua pekan terakhir di sejumlah wilayah strategis, mulai dari Surabaya Raya, Malang Raya, Pasuruan, hingga Madura Raya.
“Kalau malam hari itu beban meningkat antara jam 18.00 sampai jam 21.00 WIB, total ada 445 MW yang harus dipadamkan. Tetapi itu posisi per kemarin lusa,” kata Emil saat ditemui di Kantor DPRD Jatim, Selasa (23/6/2026).
Emil menerangkan, kendala distribusi bahan baku pembangkit (batu bara) kini perlahan mulai terurai. Seiring meningkatnya pasokan tersebut, intensitas pemadaman listrik berkala yang sempat dikeluhkan masyarakat dapat segera ditekan secara signifikan.
“Kemarin ada kabar bahwa minggu ini pasokan (batu bara) sudah berangsur-angsur meningkat, sehingga kebutuhan pemadaman juga bisa dikurangi. Angka 445 MW itu adalah puncaknya,” bebernya.
Merujuk data koordinasi bersama PLN, Emil menambahkan bahwa secara sistem, indikator teknis pasokan listrik sebenarnya sudah menunjukkan tren normal sejak dua hari lalu. Kendati demikian, Pemprov Jatim tetap melakukan evaluasi ketat pada hari kerja guna menjamin stabilitas daya jangka panjang.
“Jadi sebenarnya berangsur-angsur ada pemulihan suplai. Nah, tetapi sekali lagi kita juga terus berkoordinasi dan memantau laporan dari masyarakat,” terangnya.
Di sisi lain, Pemprov Jatim mewanti-wanti pihak PLN agar mengedepankan transparansi informasi terkait jadwal pemadaman berkala kepada publik. Hal ini penting demi menghindari kelumpuhan pada sektor-sektor pelayanan publik yang sensitif.
Sebab, gangguan suplai daya ini dinilai membawa efek berantai yang berisiko tinggi jika mengenai fasilitas operasional vital masyarakat.
“Kalau kami dari Pemda terus berkoordinasi, kami minta begini. Yang bahaya ini kan perlintasan kereta api, traffic light, PDAM, dan juga rumah sakit. Jangan sampai mereka merasakan dampaknya,” pungkas Emil.





