Pemkot Surabaya Bentengi Pelajar dari Doktrin Terorisme Digital Lewat Edukasi Rutin Densus 88

Tak Lolos SPMB Negeri, Dispendik Surabaya Tegaskan Sekolah Swasta Kini Punya Kualitas Setara
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati. (Foto: Dinkominfo Surabaya)

Surabaya, (DOC)Pemkot Surabaya bergerak cepat memperketat pengawasan dan literasi digital di lingkungan sekolah dan keluarga. Langkah ini diambil menyusul temuan mengejutkan dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri terkait adanya anak-anak di bawah umur yang sudah terpapar ideologi ekstremis hingga berada di tahap siap melakukan aksi eksekusi teror.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengungkapkan bahwa fakta mencengangkan tersebut harus menjadi alarm keras bagi para orang tua. Berdasarkan data Densus 88 pada tahun 2025, kasus anak-anak yang siap menjadi eksekutor tersebut memang terjadi di luar Surabaya, namun potensi ancaman digital tidak mengenal batas wilayah.

Bacaan Lainnya

“Jangan sampai rasa penasaran anak-anak kita berujung fatal. Nanti takutnya seperti yang disampaikan Densus, ternyata ada beberapa anak bukan di Surabaya yang sudah siap melakukan eksekusi. Bermula dari coba-coba, kalau sudah tertarik melakukan pendalaman, itu gawat sekali,” ujar Febrina, Sabtu (11/7/2026).

Untuk membentengi pelajar Surabaya dari doktrinasi radikal di dunia maya, Dispendik Surabaya resmi menggandeng Densus 88 AT Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), hingga Polisi Siber. Kolaborasi ini akan diwujudkan dalam bentuk edukasi dan screening berkala di sekolah-sekolah.

Selain membentasi siswa dengan memperkuat pendidikan karakter dan pondasi agama lewat para guru spiritual, Pemkot Surabaya juga memberlakukan pembatasan ketat penggunaan telepon genggam selama kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kendati demikian, Febrina menegaskan bahwa sekolah memiliki keterbatasan waktu. Benteng pertahanan paling utama justru berada di tangan orang tua saat anak berada di rumah dengan gawainya.

Dispendik mengimbau para orang tua untuk tidak abai dan rutin menerapkan quality time tanpa gawai di rumah. Orang tua juga diminta peka terhadap perubahan perilaku anak sekecil apa pun.

“Kalau ada gejala tidak biasa pada anak, segera sharing dengan guru di sekolah. Kita cocokkan informasi agar tahu anak ini sebetulnya kenapa. Jika terdeteksi sejak dini, kami bisa langsung hadirkan psikolog untuk memberikan terapi. Lebih baik tahu lebih awal daripada wis kasep (sudah terlanjur),” tegas Febrina.

Baca Juga:  Anak Anggota DPRD Diduga Jadi Korban Kejahatan di Galaxy Mall

Melalui pertemuan dan edukasi periodik bersama Densus 88, Pemkot Surabaya berkomitmen memastikan ruang digital anak-anak di Kota Pahlawan tetap aman dan bersih dari konten radikalisme.

Pos terkait