Berdayakan Pemuda Sumenep Untuk Membatik, Lestarikan Budaya dan Kurangi Pengangguran

Sumenep,(DOC) – Dalam menekan angka pengangguran sekaligus melestarikan budaya nusantara, sejumlah kelompok pemuda di kabupaten Sumenep Madura menggiatkan kegiatan membatik.

Batik yang mereka kembangkan adalah batik khas daerah bercorak Sumenep, mulai dari ayam cukir, kuda terbang, labang mesem hingga masjid jamik.

Bacaan Lainnya

Para kelompok pemuda tersebut berasal dari berbagai desa di kabupaten Sumenep yang selama ini tak memiliki pekerjaan tetap. Setiap hari mereka kini bergelut dengan kain dan cat untuk di beri motiv batik.

Batik karya para penggiat wirausaha muda ini, tidak kalah dengan hasil produksi professional yang sudah laku di pasaran. Kini produksi batik mereka sudah ratusan jumlahnya dan telah menjadi koleksi masyarakat hingga para pejabat.

“Tertarik mengembangkan batik karena batik merupakan karya seni yang menjadi hobbynya. Dalam membuat satu kain batik, dibutuhkan waktu selama 3 hari sampai sebulan, tergantung corak yang diinginkannya,” ungkap Zuhdi, salah satu pemuda pengrajin kain batik

Sementara pemuda penggerak batik dari Pusat Inkubator Wirausaha Muda Sumenep, Busaki menjelaskan, untuk menarik minat para pemuda agar menyukai batik memang tidaklah mudah. Namun setelah mereka mendapat pelatihan membatik, akhirnya mereka menyukai dengan sendirinya.

“Awalnya harus pantang menyerah dan terus berusaha mengumpulkan para pemuda pengangguran dari berbagai pelosok desa di Sumenep untuk mau dilatih menjadi wirausahawan dibidang batik. Harapannya kedepan akan lebih banyak lagi pemuda Sumenep yang suka membatik untuk meningkatkan perekonomian mereka,” ungkap Busaki.

Batik hasil karya para pemuda ini, dijual dengan harga Rp. 250 ribu sampai Rp. 1 juta, menyesuaikan motif dan tingkat kesulitan pembuatannya.

“Tidak hanya batik tulis, para pemuda ini juga menghasilkan batik lukis dan batik siburi. Mereka berharap kedepan batik khas Sumenep ini bisa bersaing dengan batik-batik dari daerah lain yang sudah memiliki nama dan harganya selangit,” pungkas Busaki.(hadi/r7)

Baca Juga:  Mengenal Sosok Lora Mamak, Kiai Muda Asal Sumenep yang Jadi Suami Inayah Wahid

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”0SGF_P-yhRM”][/youtube]

Pos terkait