Surabaya,(DOC) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Jawa Timur pada Februari 2026 mencapai 4,88 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, mulai dari tarif listrik hingga bahan pangan, menjadi pendorong utama laju inflasi tersebut.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur Ike Rahayu Sri menjelaskan, secara umum perkembangan harga berbagai komoditas sepanjang Februari 2026 menunjukkan tren kenaikan.
“Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 6,37 persen dengan IHK sebesar 115,44. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Gresik sebesar 3,96 persen dengan IHK sebesar 108,65,” ujar Ike di Surabaya, Selasa (3/3).
Berdasarkan hasil pemantauan di 11 kabupaten/kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur meningkat dari 105,90 pada Februari 2025 menjadi 111,07 pada Februari 2026.
Secara tahunan, komoditas yang dominan menyumbang inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, cabai rawit, telur ayam ras, serta bawang merah. Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada angkutan udara, Sigaret Kretek Mesin (SKM), mobil, santan jadi, daging sapi, biaya akademi/perguruan tinggi, Sigaret Kretek Tangan (SKT), kontrak rumah, jeruk, sepeda motor, nasi dengan lauk, sewa rumah, hingga sekolah dasar.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi Jawa Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,95 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 0,74 persen.
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi bulanan antara lain cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, telur ayam ras, bawang merah, beras, cabai merah, mobil, SKM, jeruk, sepeda motor, dan jagung manis.
Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan andil deflasi secara bulanan, yakni bensin dan wortel.
Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan tarif layanan ini menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi di Jawa Timur masih cukup kuat, terutama dari kelompok pangan dan energi. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat daya beli masyarakat sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga di pasar. (r6)





