Surabaya,(DOC) – Di tengah hiruk-pikuk awal tahun, perjuangan sunyi tengah berlangsung di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia Kota Surabaya. Stok darah golongan O, yang kerap menjadi penopang utama dalam berbagai kondisi darurat medis, kini kosong. Situasi yang hampir selalu berulang setiap awal tahun ini kembali menimbulkan kekhawatiran: tentang nyawa dan harapan pasien.
Kepala Bagian Pelayanan dan Humas UDD PMI Kota Surabaya, Wandai RMK, mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal PMI Surabaya membutuhkan sedikitnya 350 kantong darah per hari dari berbagai golongan. Kebutuhan tersebut untuk memenuhi permintaan rumah sakit yang rata-rata mencapai empat hingga lima permintaan darah setiap harinya.
Namun, awal 2026 menghadirkan tantangan tersendiri. Permintaan darah golongan O meningkat tajam, sementara stok justru terus menipis hingga akhirnya habis. Padahal, darah golongan O di kenal sebagai donor universal yang sangat di butuhkan, terutama bagi pasien dalam kondisi gawat darurat.
“Permintaannya meningkat signifikan. Karena itu kami bergerak cepat agar kekosongan ini tidak berdampak pada pelayanan pasien,” ujar dr. Wandai, Kamis (8/1).
Berbagai Upaya
Di tengah keterbatasan tersebut, PMI Surabaya tidak tinggal diam. Berbagai upaya di lakukan untuk mengetuk kepedulian publik, mulai dari penyebaran informasi darurat stok darah melalui media sosial, jaringan relawan PMI, hingga komunitas pendonor aktif. Harapannya, masyarakat, khususnya pemilik golongan darah O, tergerak untuk datang dan mendonorkan darahnya.
“Kami berharap penyebaran informasi ini bisa efektif. Setiap satu kantong darah sangat berarti bagi keselamatan pasien,” tambahnya.
Menurut dr. Wandai, krisis stok darah sebenarnya bukan hal baru. Kelangkaan kerap terjadi menjelang hingga pasca libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Aktivitas donor darah biasanya menurun akibat libur panjang, sementara kebutuhan layanan medis tetap berjalan, bahkan cenderung meningkat.
“Setiap tahun polanya hampir sama. Hanya saja, golongan darah yang mengalami kekosongan tidak selalu sama. Tahun ini yang paling terasa adalah golongan O,” jelasnya.
Di balik angka dan data tersebut, krisis darah menyimpan kisah tentang ketergantungan antarmanusia—tentang pasien yang menunggu di ruang perawatan, keluarga yang menggantungkan harapan, dan para pendonor yang menjadi jembatan kehidupan bagi mereka yang membutuhkan.
PMI Kota Surabaya pun mengajak masyarakat menjadikan donor darah bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata solidaritas dan kepedulian. Sebab ketika darah menjadi langka, setetes kepedulian dapat menjadi penentu kehidupan. (r6)





