
Lumajang (DOC) – Banjir lahar hujan Gunung Semeru menerjang sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (3/11/2026).
Derasnya aliran material vulkanik di Sungai Regoyo mengakibatkan akses menuju Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, terputus.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, aktivitas banjir lahar terpantau sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Amplitudo maksimal (Amak) yang tercatat mencapai 65 milimeter.
Salah satu warga, Agus, mengatakan aliran lahar yang berasal dari kawasan hulu Besuk Kobokan telah meluap hingga melintasi Sungai Regoyo dan menjangkau wilayah Desa Jugosari.
Menurutnya, debit aliran yang semakin besar membuat kondisi sungai melampaui batas normal. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap akses mobilitas masyarakat.
“Ini banjir laharnya sekarang over skala dari arah Curah Kobokan dan sudah menjangkau Desa Jugosari,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, warga Dusun Sumberlangsep untuk sementara tidak bisa keluar maupun masuk wilayah dusun. Jalan yang menjadi akses utama terputus akibat tertutup luapan banjir lahar.
Kondisi itu juga menimbulkan kekhawatiran warga apabila aliran lahar terus membesar dan berpotensi menjangkau kawasan permukiman.
“Dampaknya untuk masyarakat ini jalan aksesnya terputus dan warga Dusun Sumberlangsep terisolir. Ya khawatir banjir ini jadi besar sampai ke rumah,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Kabupaten Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan Dusun Sumberlangsep merupakan salah satu wilayah yang kerap terisolasi ketika banjir lahar menerjang Sungai Regoyo.
Kondisi geografis menjadi salah satu penyebab wilayah tersebut sulit diakses saat terjadi peningkatan aliran sungai. Sebab, jalur penghubung utama warga berada tepat di kawasan aliran Sungai Regoyo.
“Untuk dampak ke warga memang kalau kita lihat dari hulu sampai hilir, terutama di Sumberlangsep, dari tahun lalu memang selalu terisolir,” kata Yudhi.
Hingga saat ini, BPBD Lumajang masih melakukan asesmen lapangan untuk mengidentifikasi dampak banjir lahar, terutama terhadap infrastruktur yang terdampak.
Pendataan tersebut menjadi langkah awal untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus menentukan kebutuhan penanganan di wilayah terdampak.
“Jadi, upaya dari BPBD sendiri ya terutama itu salah satunya asesmen. Pendataan dampak-dampak infrastruktur itu yang diutamakan,” pungkasnya.





