Buka-Bukaan Soal Inflasi, Emil Dardak Sebut Ongkos Logistik Dalam Negeri Lebih Mahal dari Ekspor

Buka-Bukaan Soal Inflasi, Emil Dardak Sebut Ongkos Logistik Dalam Negeri Lebih Mahal dari Ekspor
Wagub Emil Dardak saat mengisi seminar ISPE di Unair. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC)Wakil Gubernur Jawa Timur Emil, Elestianto Dardak menyoroti ketimpangan inflasi antardaerah yang dipicu tingginya biaya logistik domestik. Ia membeberkan fakta bahwa ongkos pengiriman barang antarwilayah di dalam negeri kerap kali jauh lebih mahal dibandingkan biaya pengiriman ke luar negeri.

“Kadang-kadang ongkos logistik di dalam negeri lebih mahal daripada kirim luar negeri karena konektivitasnya belum optimal,” tegas Emil saat menjadi keynote speaker dalam seminar ISPE di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Kamis (27/8/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Emil, persoalan inflasi tidak bisa terus-menerus diselesaikan hanya dengan intervensi harga di tingkat konsumen (hilir). Pemerintah harus berani menyelesaikan akar masalah struktural, yakni memperkuat konektivitas antardaerah dan melakukan transformasi industri hijau.

Untuk memangkas disparitas harga dan biaya distribusi, Emil menegaskan posisi vital Jawa Timur sebagai hub logistik Indonesia, khususnya menuju kawasan Indonesia Timur melalui strategi Gerbang Baru Nusantara.

Jawa Timur saat ini ditopang infrastruktur logistik skala besar dengan 7 bandara komersial, 37 pelabuhan besar, 50 pelabuhan rakyat, Pelabuhan Tanjung Perak yang melayani 21 dari 39 rute Tol Laut nasional. “Kalau kita tidak berbenah dari sisi infrastruktur dan konektivitas, kita akan mengalami kemunduran daya saing,” tambahnya.

Selain konektivitas, Emil mendorong efisiensi energi melalui transformasi industri hijau demi menekan biaya produksi jangka panjang. Strategi ini terbukti mendongkrak daya tarik investasi Jawa Timur, yang pada Triwulan II 2026 mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp40,1 triliun (tumbuh 23 persen quarter-to-quarter).

“Transformasi industri hijau bukan berarti memperlambat pertumbuhan. Justru kita ingin membangun pertumbuhan yang lebih efisien, bernilai tambah, dan berdaya saing,” tutup Emil dalam forum yang digelar atas kerja sama INDEF dan Kementerian Dalam Negeri tersebut.

Pos terkait