
Surabaya, (DOC) – Ancaman kekeringan mulai menyerang sektor pertanian di Jawa Timur. Sebanyak 28 hektare lahan pertanian di Tulungagung, Lamongan, dan Magetan dilaporkan mengalami gagal panen (puso), dengan potensi kehilangan hasil mencapai 156,8 ton gabah akibat keterbatasan pasokan air.
Menanggapi kondisi ini, Pemprov Jatim langsung mengambil langkah mitigasi cepat. Petani di area krisis air diimbau untuk tidak memaksakan diri menanam padi dan sementara beralih ke tanaman palawija.
“Daripada dipaksakan menanam padi tapi airnya kurang dan gagal lagi, lebih baik sementara menanam tanaman lainnya,” tegas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jatim, Heru Suseno, Kamis (27/8/2026).
Untuk menyokong strategi tersebut, Pemprov Jatim menyiapkan sejumlah langkah penyelamatan penanganan kekeringan dan persiapan musim tanam baru, antara lain mendistribusikan bantuan benih gratis dijadwalkan mulai September 2026, disusul pasokan pupuk dan pestisida untuk mengantisipasi Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) saat penanaman serentak musim hujan pada Oktober mendatang.
“Kami juga mengoptimalkan 8.639 unit bantuan pompa air yang disalurkan secara bertahap dalam dua tahun terakhir untuk memblokir perambatan kekeringan,” katanya.
Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Jatim mengaktifkan Rencana Tata Tanam Global (RTTG) untuk mengatur jadwal distribusi air secara proporsional bergiliran di 178 daerah irigasi.
Meski ancaman puso membayangi beberapa daerah, Pemprov Jatim menjamin ketahanan pangan masyarakat tidak terguncang. Cadangan beras hasil panen periode Juni–Juli 2026 mencatatkan surplus yang diproyeksikan aman memenuhi kebutuhan warga hingga Desember 2026.
Pasokan tersebut dipastikan bertambah seiring masuknya pendataan hasil panen periode Agustus hingga September, sehingga rantai pasok beras di Jawa Timur dipastikan tetap stabil.





