Cerita Heroik Evakuasi Santri yang Terjepit Material Beton

Cerita Heroik Evakuasi Santri yang Terjepit Material Beton

Surabaya,(DOC)Tim rescue dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menunjukkan dedikasi luar biasa dalam operasi penyelamatan santri korban reruntuhan bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Di tengah medan yang sempit dan penuh risiko, mereka berhasil mengevakuasi beberapa korban selamat.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya, Laksita Rini Sevriani, mengungkapkan betapa menantangnya proses evakuasi. Reruntuhan bangunan yang sempit dan tidak stabil membuat gerak tim terbatas. Namun berbekal kamera dan life detector, tim mampu mendeteksi lokasi serta kondisi korban yang masih bertahan.

“Kondisinya sangat sulit. Tapi dengan peralatan seperti kamera dan life detector, teman-teman bisa memantau posisi dan kondisi korban,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).

Dalam evakuasi yang penuh perjuangan itu, santri bernama Yusuf menjadi salah satu korban pertama yang berhasil di selamatkan. Disusul oleh Deni, dan kemudian proses paling dramatis melibatkan penyelamatan Haikal.

Haikal terjepit reruntuhan dan bahkan terhalang jenazah santri lain. Tim penyelamat harus memutar otak untuk mencari cara aman mengeluarkannya tanpa memperparah kondisinya.

“Kondisi Haikal sangat sulit, punggungnya terjepit dan tertutup bordes. Tapi alhamdulillah bisa di selamatkan dalam status kuning, yang artinya masih perlu perawatan intensif,” jelas Laksita Rini.

Komunikasi Jadi Kunci Menjaga Korban Tetap Sadar

Menurut Rini, tim tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga menjaga kondisi psikologis korban. Anak-anak yang tertimbun tetap di ajak berbicara, di semangati, bahkan di berikan air dan makanan meski dalam kondisi sangat terbatas.

“Anak-anak masih ada yang teriak. Tim menyapa mereka dengan kalimat penyemangat seperti ‘Sabar ya Nak, tim akan datang menolong’. Itu penting untuk menjaga semangat mereka tetap hidup,” ungkapnya.

Haikal, misalnya, sempat hanya bisa menggerakkan tangan saat di beri minum oleh tim. Proses itu berlangsung perlahan dan penuh kehati-hatian agar posisinya tidak semakin memburuk.

Baca Juga:  Tawuran Viral, Wali Kota Surabaya Pilih Jalur Pembinaan

Proses evakuasi di lakukan dalam kondisi ekstrem. Tim harus menyusup melalui celah-celah reruntuhan yang hanya setinggi beberapa sentimeter.

“Tim menyusup hanya dengan satu kepala. Mepet sekali dengan material reruntuhan. Tantangannya luar biasa,” tutur Rini.

Di tambah lagi, gempa yang terjadi pada Selasa malam (30/9/2025) sempat mengancam stabilitas reruntuhan. Pergerakan struktur di khawatirkan membahayakan baik korban maupun tim penyelamat.

Dalam operasi ini, DPKP Surabaya mengerahkan dua tim rescue, masing-masing beranggotakan 6–8 personel. Mereka bekerja bergiliran, siang dan malam, berkoordinasi erat dengan Basarnas, TNI, Polri, serta unsur SAR gabungan lainnya dari berbagai daerah.

“Kami bekerja bersama, di berbagai sisi reruntuhan. Koordinasi lintas instansi sangat penting dalam operasi sebesar ini,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait