Dominasi 74% Popok Bekas di Kali Tebu Surabaya Ungkap Anomali Krisis Sampah Lokal

Dominasi 74% Popok Bekas di Kali Tebu Surabaya Ungkap Anomali Krisis Sampah Lokal
Kampanye bahaya pencemaran lingkungan akibat popok sekali pakai. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Temuan lapangan dari Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) di Kali Tebu, Surabaya, mengungkap fakta mengejutkan mengenai pencemaran sungai kota. Berbeda dari tren global yang didominasi kemasan makanan dan minuman, krisis pencemaran air di saluran vital Surabaya ini justru didominasi oleh limbah rumah tangga tak ternilai daur ulang yaitu, popok sekali pakai dan pembalut.

Selama periode pemantauan 11–30 Mei 2026, tim MOZAIK berhasil mengevakuasi total 13.433,77 kilogram sampah atau setara 895,8 kilogram per hari (sekitar 89 karung). Dari angka fantastis tersebut, 80,1 persen di antaranya merupakan sampah residu, di mana popok sekali pakai dan pembalut menyumbang porsi terbesar hingga 74,6 persen. Sementara itu, sampah organik tercatat 16,8 persen dan sampah yang bernilai daur ulang hanya menyisa 3 persen.

Bacaan Lainnya

Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, menegaskan bahwa dominasi ini memperlihatkan sungai masih menjadi

jalur pintas pembuangan limbah domestik akibat minimnya sistem pengelolaan yang khusus.

“Kondisi ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah. Popok bekas sangat sulit didaur ulang, mencemari kualitas air, dan berpotensi kuat menjadi sumber mikroplastik yang mengancam kesehatan masyarakat,” tegas Amiruddin, Sabtu (1/8/2026).

Ia menambahkan, penanganan krisis ini tidak akan selesai jika hanya mengandalkan pengangkutan di hilir. Pemerintah perlu memperkuat layanan pengelolaan sampah domestik dari sumbernya, menyediakan fasilitas penanganan khusus limbah popok, serta mendorong edukasi perilaku masyarakat secara masif.

Keunikan kasus Kali Tebu ini turut digarisbawahi oleh Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah. Menurutnya, temuan ini mematahkan asumsi umum mengenai profil sampah sungai.

“Secara global, sampah pesisir dunia didominasi kemasan plastik. Namun di Kali Tebu, popok sekali pakai justru jadi penyumbang terbesar. Ini membuktikan bahwa setiap wilayah punya karakteristik pencemaran yang berbeda, sehingga kebijakan yang dirumuskan Pemkot pun harus berbasis data lapangan,” jelas Alaika.

Baca Juga:  Pemkot Tata Ulang dan Percantik Puluhan Taman Pasif di Surabaya

Dominasi residu hingga 80,1 persen menjadi indikator kuat bahwa rantai pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga masih belum berjalan optimal.

Melalui pemantauan rutin, pemasangan trash boom, pemilahan, hingga edukasi, MOZAIK mendorong agar data komposisi ini dijadikan pijakan utama pemerintah dalam menyusun regulasi persampahan yang tepat sasaran demi melindungi ekosistem perairan dan kesehatan warga Surabaya.

Pos terkait