
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya menggandeng Paguyuban Reog Purbaya dalam upaya mempercepat regenerasi seniman tradisional dan memperkuat karakter generasi muda berbasis kearifan lokal. Langkah ini diambil sebagai strategi konkret membentengi anak muda Kota Pahlawan dari pengaruh budaya asing.
Sinergi tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, saat menghadiri acara Sarasehan Seniman Reog dan Jaranan se-Surabaya di Sanggar Paguyuban Reog Purbaya, Rungkut Asri, Minggu (26/7/2026).
Sebagai bentuk dukungan nyata, Wali Kota Eri menginstruksikan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya untuk membuka akses ruang-ruang publik sebagai wahana latihan dan panggung ekspresi para seniman muda.
“Pembentukan karakter ini harus kita fasilitasi. Saya sudah sampaikan ke Kadis Pariwisata, ruang publik seperti taman hingga pendopo kelurahan dan kecamatan silakan dimanfaatkan untuk mengembangkan seni budaya, baik untuk tempat latihan maupun kegiatan lain,” tegas Eri Cahyadi.
Eri menekankan bahwa kunci regenerasi seni tidak hanya berhenti pada pembentukan sanggar, tetapi juga memberikan panggung tampil yang konsisten di ruang publik agar generasi penerus dapat melihat, belajar, dan mempraktikkannya secara langsung.
“Harapan saya, anak-anak Surabaya memiliki karakter yang kuat dan tidak tergerus seni budaya asing,” lanjutnya.
Selain regenerasi, Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri ini mengimbau seluruh dinas di lingkungan Pemkot Surabaya agar berkoordinasi satu pintu melalui paguyuban resmi saat mengundang pengisi acara kesenian, bukan secara perseorangan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keutuhan antar-seniman serta menjamin keadilan dan pemerataan kesempatan tampil.
“Saya ingin jika Pemkot mengundang pertunjukan seni, harus melalui paguyuban. Ini penting untuk menjaga kebersamaan, keadilan, serta pemerataan bagi seluruh kelompok seni di Surabaya,” ujarnya.
Melihat potensi besar Paguyuban Purbaya yang baru saja meraih juara ketiga dalam Festival Reog Nasional di Ponorogo, Pemkot Surabaya juga berencana menggelar kompetisi serupa dalam skala yang lebih luas di Kota Pahlawan.
“Ke depan, kami ingin menggelar kompetisi Reog dan Jaranan skala Jawa Timur maupun nasional di Surabaya untuk menggelorakan semangat seniman lokal sekaligus menegaskan Surabaya sebagai salah satu pusat perkembangan budaya,” tambah Eri.
Sambut positif atas komitmen Pemkot Surabaya disampaikan oleh Pembina sekaligus Penasehat Paguyuban Reog Purbaya, Heru Sancoko. Ia mengapresiasi langkah Wali Kota yang turun langsung merangkul para penggiat seni tradisional.
“Ini suatu kehormatan bagi kami. Kepedulian Pemkot Surabaya saat ini sangat luar biasa. Baru di kepemimpinan sekarang Wali Kota berkenan hadir langsung menyapa dan memberikan perhatian penuh kepada seniman Reog dan Jaranan,” kata Heru.
Heru menjelaskan, Paguyuban Purbaya saat ini menaungi 47 grup Reog dan 10 grup Jaranan di Surabaya. Pihaknya berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Pemkot Surabaya dalam menjaga iklim kesenian yang kondusif serta mengawal regenerasi pelaku seni masa depan.
“Melalui sinergi ini, kami berharap kesenian Reog dan Jaranan tidak hanya eksis di Surabaya, tetapi juga mampu mengharumkan nama Kota Surabaya di kancah yang lebih luas,” pungkasnya.





