
Lumajang,(DOC) – Petani tomat di Lumajang mengapresiasi rasa kekecewaannya dengan membuang hasil panennya ke selokan. Mereka mengalami kerugian yang cukup besar, lantaran hasil panennya diharga sangat rendah di pasaran.
Satu kilogram tomat dipasaran sekarang ini hanya dijual Rp 300 atau terjun bebas dari harga normal sebelumnya, yakni Rp 6.000, perkilogram.
Harga jual tomat tersebut, sangatlah tidak seimbang dengan modal yang harus dikeluarkan oleh para petani tomat saat musim tanam.
Ngatuli (60) seorang petani tomat asal Desa Tumpeng, Kecamatan Candipuro menyampaikan, harga jual tomat Rp 300 perkilo itu sangat membuatnya rugi, karena proses pembibitan dan penanamannya membutuhkan biaya yang lebih besar.
Selain murah, kata Ngatuli, tomat-tomat hasil panennya itu belum tentu laku terbeli, sehingga dia membuangnya. “Ya dibuang aja, harganya Rp 300 dan tidak laku juga,” tandasnya.
“Jangankan untung biaya upah pemetik tomat saja, tidak bisa kami bayar, jika harganya cuma Rp 300 ini pak,” tambah Ngatuli.
Harga tomat terjun bebas ini, telah berlangsung selama satu bulan terakhir ini, sehingga bukan hanya Ngatuli, satu-satunya petani yang mengalami kerugian cukup besar setelah panen tomat. Bahkan sejumlah para petani tomat juga ikut-ikutan membuang hasil panennya ke selokan.
Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, lanjut Ngatuli, para petani tomat seringkali tak memanennya dengan membiarkan tomat berada di pohonnya. Apalagi para tengkulak juga jarang memborong tomat hasil panen para petani.
“Sebetulnya bulan-bulan ini kan panen raya. Tapi gimana kalau dipaksa panen, jelas akan rugi. Karena tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan,” pungkasnya.(imam)

