Surabaya,(DOC) – Gaya hidup minim gerak atau mager kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan tulang dan sendi. Kebiasaan duduk terlalu lama, jarang berolahraga, serta pola hidup serba instan tak lagi hanya berdampak pada lansia. Keluhan nyeri sendi hingga pengapuran kini mulai banyak di alami kelompok usia produktif.
Dokter Spesialis Ortopedi RS Premier Surabaya, Faesal Abdarrab Maodah, menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik yang di sertai kelebihan berat badan menjadi pemicu utama gangguan sendi bersifat kronis.
“Sendi itu butuh gerak supaya tetap sehat. Kalau jarang di pakai, justru cepat rusak,” ujar dr. Faesal, Minggu (25/1).
Ia menjelaskan, berbeda dengan jaringan tubuh lain, tulang rawan pada sendi tidak memiliki pembuluh darah. Nutrisi hanya di peroleh melalui cairan sendi yang bergerak saat tubuh aktif. Ketika aktivitas fisik minim, proses nutrisi ini terhambat sehingga sendi mengalami penuaan dini.
“Tanpa gerakan, tulang rawan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Akibatnya, terjadi degenerasi sendi yang memicu nyeri berkepanjangan,” jelasnya.
Selain itu, otot dan ligamen yang jarang di gunakan akan melemah. Kondisi ini menyebabkan sendi kehilangan stabilitas alaminya dan meningkatkan risiko cedera, bahkan saat melakukan aktivitas ringan.
“Orang yang jarang bergerak, ototnya mengecil. Sedikit terpeleset saja bisa berakibat cedera serius karena sendinya tidak stabil,” tambahnya.
Gaya hidup pasif juga kerap berjalan beriringan dengan peningkatan berat badan. Beban tubuh berlebih memberi tekanan ekstra pada sendi penopang seperti lutut dan panggul, sehingga mempercepat terjadinya pengapuran sendi atau osteoartritis.
“Sekarang tidak heran jika pasien osteoartritis datang di usia 30–40 tahun. Lutut adalah penopang utama berat badan, sehingga proses ausnya jauh lebih cepat jika bebannya berlebih,” ungkap dr. Faesal.
Minim Aktivitas Fisik
Tak hanya sendi, tulang pun berisiko mengalami osteoporosis akibat minimnya aktivitas fisik. Ketidakseimbangan antara pembentukan dan perusakan tulang membuat struktur tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Meski olahraga sangat di anjurkan, dr. Faesal mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan. Aktivitas fisik yang berlebihan tanpa persiapan dan pemanasan yang memadai justru dapat memicu cedera, peradangan sendi, hingga patah tulang akibat kelelahan.
“Olahraga itu harus seimbang. Terlalu malas tidak baik, tapi terlalu memaksakan diri juga bisa merusak,” tegasnya.
Menjawab meningkatnya kasus gangguan tulang dan sendi, RS Premier Surabaya menghadirkan layanan ortopedi komprehensif dengan konsep One Stop Service. Layanan ini mencakup penanganan cedera akut seperti patah tulang dan cedera ligamen, hingga penyakit degeneratif seperti pengapuran sendi.
Dr. Faesal menegaskan, tindakan operasi bukanlah pilihan utama. Sebagian besar pasien di tangani melalui pendekatan konservatif bertahap, mulai dari pemberian obat, fisioterapi, latihan penguatan otot, hingga penyuntikan cairan sendi.
“Kami selalu mengutamakan penanganan tanpa operasi. Tindakan bedah di lakukan bila keluhan sudah sangat berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari,” pungkasnya. (r6)





