Kutukan Sampah Plastik Sekali Pakai Makin Nyata

Kutukan Sampah Plastik Sekali Pakai Makin Nyata

Gresik,(DOC) – Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun ini membawa kabar buruk bagi kesehatan publik di Indonesia. Riset terbaru yang dilakukan oleh yayasan lingkungan hidup ECOTON mengungkap fakta mengerikan: plastik sekali pakai yang kita buang kini telah kembali ke dalam tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik, bahkan hingga ke organ yang paling vital.

Bacaan Lainnya

Salah satu temuan paling mengejutkan berasal dari kolaborasi riset antara ECOTON, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dan Woonjin Institut. Dari pemeriksaan terhadap 42 sampel air ketuban (amnion) ibu melahirkan di Gresik, ditemukan bahwa 100% sampel mengandung mikroplastik.

“Rahim yang selama ini dianggap sebagai tempat paling aman bagi awal kehidupan manusia, kini telah tercemar. Era baru telah datang: era Mikroplastik,” tegas Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON.

Jenis polimer yang mendominasi adalah Polyethylene (PE), yang jamak ditemukan pada botol minuman plastik, wadah makanan panas, hingga tas kresek. Kehadiran partikel ini memicu peningkatan Malondialdehide (MDA), sebuah penanda peradangan yang berisiko mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.

Tak hanya di rahim, ancaman ini telah menjalar ke seluruh sistem tubuh. Peneliti ECOTON, Sofi Azilan Aini, mengungkapkan bahwa sejak 2017, mikroplastik telah terdeteksi dalam feses, ASI, air seni, hingga darah perempuan.

Bahkan, kolaborasi riset antara Greenpeace dan Universitas Indonesia pada Maret 2025 menunjukkan adanya mikroplastik dalam jaringan otak manusia. Hal ini sejalan dengan studi global yang menyebutkan konsentrasi plastik di otak bisa 7 hingga 30 kali lipat lebih tinggi dibanding organ hati atau ginjal.

“Masuknya mikroplastik ke aliran darah berpotensi menetap di organ vital, memicu kerusakan sel, dan menurunkan kemampuan kognitif akibat paparan zat kimia toksik,” tambah Sofi.

Ironisnya, penduduk Indonesia disebut sebagai manusia yang paling banyak mengonsumsi mikroplastik di dunia, yakni sekitar 15 gram per bulan. Angka ini merupakan konsekuensi dari posisi Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik lautan tertinggi ketiga secara global setelah India dan Nigeria.

Baca Juga:  254 Bangunan Liar Kepung Kali Surabaya, Aktivis Sebut Surabaya Bisa Punya Venesia Sendiri

Data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) 2023 mencatat:

  • 31,9 juta ton timbulan sampah nasional.
  • 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola.
  • 57% sampah masih dikelola dengan cara dibakar, yang justru melepaskan mikroplastik ke udara dan air hujan.

Peringatan HPSN setiap 21 Februari sejatinya merujuk pada tragedi longsornya TPA Leuwigajah tahun 2005 yang menewaskan 157 jiwa. Namun, ECOTON menilai pemerintah belum belajar dari sejarah. Pengelolaan sampah masih berkutat pada metode open dumping dan lemahnya penegakan aturan di hulu.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat—terutama Generasi Z—diimbau untuk mulai memutus rantai “kutukan” ini.

“Kita harus berani menghindari plastik sekali pakai dan produk kosmetik yang mengandung scrub plastik. Mikroplastik masuk lewat pernapasan, mulut, bahkan kulit. Langkah kecil kita adalah benteng terakhir kesehatan masa depan,” tutup Sofi. (r6)

Pos terkait