
Surabaya, (DOC) – Kabar duka menyelimuti dunia arsitektur dan tata kota Indonesia. Pakar Tata Kota terkemuka dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. Johan Silas, meninggal dunia di RS Kemenkes Indrapura pukul 03.24 WIB pada Senin (8/6/2026).
Kepergian sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk perkembangan Kota Pahlawan ini meninggalkan duka mendalam, termasuk bagi Wali Kota Surabaya periode 2010-2020, Tri Rismaharini, yang juga merupakan mantan mahasiswanya di Jurusan Teknik Arsitektur ITS.
Risma mengenang Prof. Johan Silas sebagai sosok guru sekaligus mentor yang sangat visioner. Menurut Risma, cetak biru perkembangan infrastruktur Surabaya saat ini tidak lepas dari pemikiran besar sang profesor sejak puluhan tahun lalu.
“Yang perlu warga Surabaya ketahui adalah Masterplan Surabaya 2000 itu disusun oleh beliau. Oleh karena itu ada Jalan Raya MERR, jalan radial-radial lingkar timur dan lingkar barat, kemudian akses poros itu beliau yang memprakarsai sejak tahun 1978,” ujar Risma saat ditemui di ITS.
Risma menceritakan, saat dirinya menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, fokus utamanya adalah mewujudkan mimpi-mimpi tata kota yang telah dirancang oleh Prof. Silas.
“Saat saya jadi walikota, saya mencoba mewujudkan mimpi beliau. Alhamdulillah MERR tuntas, Jalan Ahmad Yani tuntas. Kalau teman-teman tahu kenapa gedung Graha Pena bangunannya mundur, Kantor Polda Jatim mundur, itu karena sudah ada perencanaan dari tahun 1978,” jelasnya.
Meski demikian, Risma menyebut masih ada pekerjaan rumah terkait visi transportasi Prof. Silas yang belum sepenuhnya rampung, seperti proyek jalan di kawasan Banyu Urip dan Wiyung.
“Terus Banyu Urip juga, waktu itu pembebasannya sangat sulit karena padat penduduk. Itu sebetulnya ada radial road yang ke timur-barat. Tantangan ke depan itu ada yang terusannya Jalan Wiyung, nanti tembus Wonokromo itu belum selesai. Itu semua perencanaannya beliau, beliau leader-nya,” tambah Risma.
Hubungan antara Risma dan Prof. Silas sudah terjalin sejak bangku kuliah, lalu berlanjut hingga Risma berkarier sebagai birokrat di Pemkot Surabaya, mulai dari program perbaikan kampung (Kampung Improvement Program) hingga saat Risma menjabat di Bapedalitbang Kota Surabaya. Di sana, Prof. Silas terus mendampingi untuk merumuskan Surabaya Urban Development Policy.
Sambil mengenang masa-masa kuliah, Risma sembari tersenyum menceritakan bagaimana ia kerap membuat sang profesor emosi lantaran tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan.
“Aku dulu nakal. Prof. Silas itu kan ilmunya terlalu tinggi untuk kita, ngomongnya terlalu makro. Seringkali sebagai mahasiswa susah memahami, sering beliau ku buat marah sampai akhirnya dia menjelaskan secara detail,” kenang Risma.
Ada pula cerita unik yang membekas di ingatan Risma saat ia menyusun Tugas Akhir (TA) di kawasan lokalisasi yang berdiri di atas tanah Pemkot Surabaya.
“Saat kita survei ke sana, aku jalan duluan terus aku digoda orang di sana. Telingaku langsung dijewer sama beliau,” ungkapnya
Untuk diketahui, jenazah Prof. Johan Silas direncanakan akan disemayamkan dan dilepas melalui serangkaian prosesi penghormatan terakhir oleh pihak keluarga dan civitas akademika ITS sebelum dikremasikan.





