Potret Sang Jagoan, Oase Keringnya Literasi Olahraga Nasional

Surabaya, (DOC) – Buku berjudul Potret Sang Jagoan baru saja diluncurkan penulis juga KONI Jawa Timur di Graha Pena Jawa Pos, Surabaya. Buku yang termaktub profil dan kisah singkat 50 atlet Jawa Timur peraih emas ini menjadi oase di tengah minimnya jenis buku literasi tentang prestasi atlet dalam negeri.

Potret Sang Jagoan memang tergolong langka. Pasalnya, tak banyak buku yang mengulik kisah-kisah atau perjalanan menarik atlet dari berbagai cabang olahraga (cabor). Terlebih, mereka bercerita jatuh bangunnya meraih prestasi, mengalami keputus-asaan hingga menghadang larangan keras dari orang tua.

Hanya ada profil sekitar 50 atlet pilihan yang pernah menyumbangkan medali emas bagi Jawa Timur. Beberapa di antara mereka juga dikenal sebagai atlet nasional cabor, seperti Eko Yuli, Kevin Sanjaya, dan sederet nama lainnya.

Mereka bercerita singkat tentang debut dan pembangunan karirnya. Ada pula tips menghindari pengaruh narkoba, dopping sampai dengan mengatasi kejenuhan selama latihan.

Tersaji pula foto portrait sang atlet dalam halaman full color, sehingga membuat pembaca dapat mengenal lebih dekat. Ada juga data diri dan prestasi terbaik setiap atlet. Buku ini secara tidak langsung mengajak pembaca berkenal satu per satu atlet lebih akrab.

Adapun buku ini disusun oleh Maksum dan kawan-kawan. Beliau merupakan wartawan senior Jawa Pos mulai 1999-2009. Pernah juga menjadi redaktur beberapa desk koran terbesar di Jatim itu. Penyusunan dibantu pula boleh Fuad Ariyanto dan Sidiq Prasetio yang juga merupakan wartawan senior Jawa Pos.

Penyusunan buku sendiri atas dorongan dan dukungan pihak KONI Jawa Timur. Setelah sukses besar di PON 2016 juga lewat pengembangan berbasis sportscience, KONI yang dinakhodai Erlangga Satriagung ini ingin mengabadikan beberapa kisah atlet berprestasi untuk menginspirasi atlet muda lainnya.

Seorang penulis buku sekaligus wartawan olahraga senior Jawa Pos Tatang Mahardhika mengungkapkan, masyarakat Indonesia masih minim bahkan kekurangan akan literasi tentang olahraga dan prestasi atlet olahraga. Cabang olahraga yang dimaksud ialah yang meluas dan tidak banyak diekspos.

Tatang mencontohkan, prestasi fenomenal yang ditorehkan Pebulutangkis Susi Susanti dan Alam Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992. Momen bersejarah ini hanya lebih banyak diceritakan pada sebuah foto. Potret Susi Susanti menitikan air mata di atas podium menjadi fenomena bersejarah yang akan terus dikenang.

“Seperti Susi Alan dalam Olimpiade Barcelona. Fotonya saja sudah memberikan sejarah fenomenal. Bagaimana bila ada literasi buku yang menceritakan kisah mereka dalam tulisan,” ujar Tatang.

Menurut Tatang, kisah keberhasilan Susi dan Alan bakal lebih hidup dan abadi bila terbukukan. “Ada behind the scene atau di balik layar keberhasilan atlet dunia ini. Perjuangan yang terbukukan bisa mendorong anak muda untuk berprestasi,” ujarnya.

Bagi Tatang, literasi tentang olahraga sepak bola justru jauh lebih berkembang belakangan ini. Masyarakat dan komunitas lokal sepakbola mulai bergairah untuk menulis dan menciptakan karya literasi yang mereka selami. “Tiga tahun terakhir ini justru literasi sepak bola berkembang cukup pesat,” tandas suporter setia Manchester United ini.

Namun, lanjut Tatang, masyarakat perlu lebih mengenal pahlawan olahraga mereka bahwa bukan hanya sepak bola atau badminton. Namun, ada perjuangan dari cabor lain yang tidak pernah terekspos.

Oleh karena itu, Tatang mengapresiasi tinggi eksistensi buku Potret Sang Jagoan. Dia pun mendukung adanya sekuel buku yang mungkin akan hadir. Buku berjenis sama juga diharapkan lahir dari beberapa daerah lain di Indonesia.

“Tanpa buku ini, apa kita kenal siapa sih Eko Yuli? Seperti apa sih karir atlet selam? Penting mendorong buku lain serupa. Apalagi ada sekuel lain,” ujar Tatang.

Tatang juga menepis anggapan buku tentang prestasi atlet Jatim ini tak akan laku keras. Menurut, Tatang buku Potret Sang Jagoan menampilkan beberapa atlet juara nasional bahkan dunia. Referensi mereka tetap akan dicari dan dibutuhkan sepanjang masa baik oleh olahragawan, pelatih, pecinta olahraga, mahasiswa olahraga, atlet muda dan banyak kalangan lainnya.

Dalam peluncuran buku Sabtu (6/10) lalu di Ruang Semanggi, Lantai 5 Graha Pena Jawa Pos, banyak juga masukan penting dari sejumlah audiens yang sekaligus banyak di antara mereka sebagai praktisi olahraga. 

Kebanyakan dari mereka berharap adanya karya buku lanjutan yang mengupas lebih beragam dan rinci di antaranya soal keberhasilan sportscience dalam mendongkrak prestasi atlet jawa timur. Ada pula usulan untuk mengangkat kisah dan sosok pelatih juga pembina yang berada menyokong keberhasilan atlet.

Ada juga ide kepada penulis untuk khusus menceritakan masa keterpurukan atlet yang kemudian cerita perjuangan mereka melewatinya hingga bangkit dan meraih prestasi. Mengingat tak sedikit atlet atau olahragawan yang gagal move on dan putus asa ketika mengalami keterpurukan hidup seperti cedera parah atau kekalahan yang menyakitkan. (Pbr)