D-ONENEWS.COM

Rekonstruksi Kasus Novel Baswedan Disebut Ada Kejanggalan, Apa Saja?

Novel Baswedan

Jakarta (DOC) – Kepolisian menggelar rekonstruksi perdana kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK Novel Baswedan pada 7 Februari 2020 lalu. Dari rekonstruksi itu, sekitar 10 adegan direka ulang.

Namun, proses rekonstruksi itu dinilai janggal oleh sebagian pihak, termasuk Novel. Berikut beberapa kejanggalan, seperti dilansir dari Tempo, Senin (10/2):

– Waktu rekonstruksi

Kepolisian melaksanakan rekonstruksi pada 7 Februari 2020 sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Novel menyebut tak ada keharusan gelar rekonstruksi dilakukan di tempat dan waktu saat perkara terjadi.

“Iya saya sepakat (kejanggalan), memang kan mestinya dibikin lebih terang, tempatnya juga engga harus di sini, waktunya juga engga harus sama, dan lain-lain,” kata Novel.

– Rekonstruksi dilakukan tertutup dan jurnalis tidak boleh meliput

Pengacara Novel Baswedan, Saor Siagian, menyayangkan sikap polisi yang menggelar rekonstruksi penyiraman air keras dilakukan secara tertutup. Ia menilai publik seharusnya diizinkan melihat rekonstruksi kasus Novel Baswedan ini dari dekat.

“Saya tidak paham apa yang ada di kepala polisi. Mestinya tidak ada alasan polisi tidak memberi akses kepada publik terlebih kepada jurnalis,” kata Saor.

Dalam rekonstruksi tersebut, jurnalis tidak diperkenankan mendekat ke lokasi. Dilarang memotret, apalagi merekam. Jika nekat, maka Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) yang bersenjata laras panjang akan menghampiri dan menyuruh pewarta berjarak.

– Novel tak ikut rekonstruksi

Penyidik Senior KPK itu memilih tidak ikut rekonstruksi penyiraman air keras terhadap dirinya di kompleks perumahannya di Kelapa Gading, Jumat dinihari itu.

Rekonstruksi penyiraman Novel Baswedan itu berlangsung dari pukul 03.00 hingga 06.00. Novel mengatakan dia tidak ingin penglihatan mata kanannya memburuk karena lampu sorot yang digunakan saat reka adegan itu.(tc)

Loading...

baca juga